Latest Entries »

Cara membuat website / blog gratis penghasil uang

Ada banyak cara untuk mencari uang di internet. Salah satunya yaitu dengan membuat website lalu me-monitize istilahnya agar website tersebut bisa menghasilkan uang.

Pada saat ini memang sedang ngetrend di kalangan netter ( org yg hobby internet ) untuk mencari penghasilan tambahan. Pada umumnya mereka membuat website lalu mendaftar ke program2 affiliasi yg bisa menghasilkan uang di internet.

Bila anda mempunyai website yang sudah di monitize, maka penghasilan extra akan datang dengan sendirinya meskipun anda sedang tidur sekalipun. Hal ini dikarenakan website anda akan on line 24 jam sehari ,7 hari seminggu, dan pengunjung website anda yg mengklik iklan disana akan memberikan penghasilan tambahan untuk anda. Dan hal ini terjadi terus menerus tanpa anda harus monitor. Pokoknya begitu anda membuat website tersebut online maka ia punya potensi besar untuk menghasilkan uang.

Lalu berapa modal yg harus dikeluarkan untuk membuat website seperti itu ? Untuk saat ini bisa di pastikan anda tidak akan keluar uang sepeser pun kecuali untuk bayar sewa rental warnet / komputer, rokok dan minuman untuk menemani anda dalam membuat website atau blog.

Nah jika anda sudah selesai membuat website, ada beberapa program affiliasi gratis yg bisa anda ikuti saat ini. Diantaranya adalah :

Cara membuat website / blog anda menghasilkan uang lewat co.cc
(RECOMENDED – sudah terbukti membayar)

Perusahaan domain web gratis ini selain menawarkan domain gratis untuk website anda juga menawarkan kerja sama dengan orang orang yang telah mendaftar disana secara gratis.

Domain adalah alamat dari website anda. contohnya http://howtodiy.000webhost.com/. Sedangkan website adalah sekumpulan file html yang disimpan disuatu web server atau web hosting.

Jika anda ingin punya website yang gratis dan bisa menghasilkan bayaran dollar, saya sangat menyarankan anda ikutan di program ini.

Cara nya adalah dengan memberikan link referensi yg mengarahkan pengunjung website / blog anda ke website mereka. Dari setiap orang yg mendaftar, anda mendapat komisi USD 0.1. Kelihatannya sih kecil yah, kalo di konversi ke rupiah cuma sekitar 1.000 rupiah. Tapi coba anda bayangkan jika website/blog anda nantinya punya banyak pengunjung.

Setelah terkumpul minimal $ 1 maka komisi anda dpt dicairkan kapanpun lewat Paypal (jadi bisa dicairkan tiap hari). Klik disini untuk mendaftar CO.CC:Free Domain

Bukti pembayaran dari co.cc

uang internet dari co.ccDan ini bukti penerimaan uang yang sudah masuk di akun paypal saya.

uang yang sudah masuk ke rekening paypay
Silahkan anda cek kecocokan jumlah yg di transfer antara akun co.cc dan paypal saya. Setelah anda cek, maka anda akan yakin kalau co.cc benar2 sudah membayar saya.

Total dari januari s/d juni 2010 = 328.9 dollar x 9000 = 2.960.100

Emang sih sedikit karena rata2 hanya Rp 493.350/ bulan
Tapi ini karena pengunjung blog ini tidak begitu banyak. Cuma sekitar 426 pengunjung perhari mulai 1 januari s/d 26 juni 2010 (berdasarkan data “first time visitor” di statcounter).

Ok. Sekarang kita coba hitung dengan data real blog saya diatas mulai 1 januari 2010 – 26 Juni 2010
Jumlah pengunjung blog = 75.027 orang (6 bln)
Jumlah sign up (orang yang mendaftar) = 3.288 orang (6 bln)
Konversi jumlah pengunjung ke jumlah sign up = 3.288 : 75.027 = 4.38 %
Jadi 4.38% pengunjung blog ini ikutan mendaftar di program gratis ini.

Data di atas adalah merupakan data real blog ini. Sekarang coba kita berangan-angan sedikit dan hitung jika pengunjung blog ini sampai 3.000 orang perhari !!! (NGIMPI KALI YEE…)

“Ingat orang bisa sukses karena punya impian. Impian membuat orang punya motivasi, dan motivasi adalah modal utama untuk sukses. Ingat juga bahwa Allah gak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum tersebut mau berusaha untuk merubahnya.”

Ok. deh back to the topic dan siapkan kalkulator anda -:>
*** Ini adalah ilustrasi yang saya kondisikan sesuai data real pengalaman saya selama 6 bulan terakhir ikutan program ini (1 januari – 26 juni 2010). Saya menggunakan data 6 bulan untuk menghindari kesalahan prediksi/penyimpangan yg terlalu jauh***

CATATAN : 1 januari – 26 juni 2010 = 176 hari

Jika pengunjung website / blog ini adalah 3.000 orang perhari, maka 176 hari x 3000 org = 528.000 orang pengunjung dalam 6 bln

528.000 orang x 4.38% = 23.139 signup (pendaftar) dalam 6 bulan
**4.38% adalah data real blog ini selama 6 bln (silahkan lihat catatan di atas)**

23.139 x 0.1 dolar (komisi/signup) = 2.313.92 dollar ( 6 bln)
2.313.92 dolar x kurs 9.000 = Rp 20.825.271 ( 6 bln)
Jadi uang yang di hasilkan dari internet (co.cc) perbulannya Rp 3.470.878,-

Mungkin bagi sebagian orang jumlah uang tersebut untuk sebulan kecil, Tapi ingat bahwa ini adalah income passive karena anda hanya perlu lakukan hal di bawah ini (silahkan lakukan langkah demi langkah) :

  1. Mendaftar domain gratis di CO.CC:Free Domain
  2. Membuat blog dan memasukan kode link seperti gambar di atas ke blog anda ( jika anda sudah punya blog/ website anda tinggal memasukkan kode tersebut di atas)
  3. Daftarkan blog anda di search engine google. Anda bisa daftar lewat sini Add Your URL
  4. Untuk rekening penerimaan pembayaran silahkan daftar di paypal, jika anda belum punya akun paypall, anda bisa daftar disini.
  5. Lupakan blog anda dan biarkan ia bekerja dengan sendirinya sambil sesekali cek sign up list di account co.cc anda, dan jika hasilnya sudah di atas 1 dolar, anda bisa tarik uang tersebut ke paypal. Jika sudah terkumpul cukup banyak anda bisa tarik uang anda dari paypal ke rekening bank anda (proses makan waktu hingga 5 hari kerja bank).

Jika blog anda sudah punya pengunjung dan jika cara anda mereferensikan co.cc sangat menarik, maka dengan sendirinya anda akan punya penghasilan tambahan tanpa anda bekerja sekalipun. Untuk mengetahui jumlah pengunjung blog/website anda, silahkan daftarkan blog/website anda di sini statcounter.com dan copy kode javascript yang di berikan oleh statcounter ke website anda.

Ingat kunci dari berhasil atau tidaknya program ini adalah pengunjung blog/ website. Semakin banyak jumlah pengunjung blog anda, maka semakin banyak hasil yang anda peroleh. Semakin anda bisa meyakinkan pengunjung website/blog anda untuk ikutan program ini semakin besar yang yang bisa anda konversi ke jumlah sign up. Jika anda malas mengetik ataupun membuat review tentang co.cc di blog / website anda, silahkan anda copy paste posting saya ini ke blog/website anda asalkan anda memberikan backlink ke blog saya ini.

Nah jika anda sudah daftar domain, selanjutnya baca Langkah dan Cara Membuat Website atau silahkan lihat cara membuat blog

Cara membuat website / blog anda jadi penghasil uang melalui PPC lokal

1. Cara membuat blog menghasilkan melalui Kumpulblogger

Bila anda punya website atau blog anda bisa daftar di kumpulblogger.com. Bayarannya rupiah yang akan ditransfer langsung ke rekening anda setelah tagihan anda mencapai saldo tertentu.
Cara kerja dari kumpul blogger ini adalah mengumpulkan para pemilik website dan para pemasang iklan melalui media website kumpulblogger.com. Para pemasang iklan ini yang akan membayar kita melalui kumpulblogger ketika iklan mereka yang tampil di website kita di klik oleh pengunjung. Bila anda seorang pemula saya sarankan ikut program ini dulu.

2. kliksaya.com

Cara kerja dari kliksaya sama seperti kumpulblogger. Untuk mendaftarnya juga mudah hanya saja untuk membuat iklan dari para pemasang iklan muncul di website anda akan agak sulit kecuali website/blog anda mempunyai banyak pengunjung karena dipersyaratkan website anda punya page view diatas 10.000 perbulan yang kalau di konversi ke jumlah pengunjung minimal sekitar 300 pengunjung website per hari.

3. Cara membuat blog menghasilkan uang melalui google adsense

Google adsense merupakan produk dari google yang bisa membuat anda memperoleh penghasilan dollar. Banyak orang yang kaya mendadak gara-gara ikutan. Tapi banyak juga yang gagal. Untuk mendaftar anda harus punya website berbahasa Inggris untuk didaftarkan, setelah itu anda baru bisa menggunakanya pada website anda yang berbahasa Indonesia.
Sebaiknya anda tidak usah ikutan program ini karena untuk pendaftar baru dari Indonesia, iklan dari google adsense tidak akan muncul di website anda dalam bentuk iklan, namun hanya dalam bentuk kotak pencari yang jarang digunakan orang.

Tips cara membuat website gratis bisa menghasilkan uang:

1. Jika anda pemula daftarlah ke kumpulblogger dulu. Setelah pengunjung website anda banyak baru ikutan kliksaya.
2. Jangan hanya terpaku pada penghasilan dollar. PPC indonesia pun sanggup memberikan penghasilan tambahan lewat website anda. Pada saat ini pun saya selain ikutan google adsense saya juga ikutan kumpulblogger dan kliksaya, dan hasilnya perbulan lumayan karena hampir menyamai gaji saya satu bulan. Bahkan para senior saya ada yang bisa menghasilkan antara 6 – 8 juta perbulan dari website melalui kliksaya dan kumpulblogger.
3. Jika anda mau penghasilan dollar dari website /blog anda, sebaiknya anda coba baca blog tentang review program affliasi seperti di Xprove.blogspot.com
4. Gunakan website saja. Alasan saya karena blog agak sulit untuk di optimisasi di search engine agar bisa menang. Contohnya blog ini yang memakan waktu hampir satu tahun baru bisa menang di google. Mengenai cara membuat website anda bisa menang di search engine seperti google saya akan bahas di lain kesempatan jika saya ada waktu untuk membuat posting baru di blog tentang cara membuat website ini.
5. Ok kalau anda tertarik buruan untuk membuat website/blog anda menghasilkan uang buruan ikutan.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa
sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
[QS. Al- Fushshilat]

Tidak semua peristiwa alam dapat dijelaskan dengan akal. Dalam koleksi ini disajikan keajaiban alam. Koleksi ini dikumpulkan sedikit demi sedikit dari internet. Jika anda merasa dapat memberikan tambahan keterangan pada koleksi di bawah ini, silahkan beri komentar anda !. Mohon bersabar apabila agak lambat, karena fotonya ditampilkan semuanya.. :)

Gambar lainnya bisa dilihat di http://www.islamcan.com/miracles/index.shtml


LEBAH YANG MENULISALLAHU
(Those who are familiar with Arabic will easily be able to identify what this beehive spells – “Allahu”)


Akan terlihat dengan jelas lafal “Allah” pada batu permata tersebut bila disinari dengan cahaya


Mawar Merah di Angkasa
“Selain itu (sungguh ngeri) ketika langit pecah belah lalu menjadilah ia mawar merah, berkilat seperti minyak”
(Ar-Rahman: 37)

Gambar di atas adalah gambar ledakan bintang di angkasa yang diperoleh NASA dengan Teleskop yang sangat canggih.
Kejadian tersebut membuktikan kebenaran Al-Quran yang diturunkan 14 abad yang lalu pada surah Ar-Rahman di atas


POHON YANG SEDANG RUKU

This is a recently discovered phenomenon in a forest near Sidney. As you can see, the bottom half of the tree trunk is bowed in such a way that it resembles a person in a posture of Islamic prayer – the ‘ruku’. Looking closer you can see the ‘hands’ resting on the knees. the most amazing thing is that the ‘man’ is directly facing the Kaaba, Mecca which is the direction Muslims all over the world face when in prayer.


Sesungguhnya ALLAH Maha berkuasa dan dapat menjadikan apa saja yang pernah ataupun tidak pernah terfikir oleh manusia.Ini merupakan keajaiban alam ciptaan ALLAH.


THE FISH TESTIFIES THE PROPHET (S.A.W)
The story of the fish began when Mr. Goerge Wehbi, a Christian Lebanese, was practicing his fishing hobby, in Dakar Senegal (the Capital of West Africa). He caught many fish. When the went home his wife saw among them a strange fish about 50cm length, with some arabic writing on it. He took it to Sheikh al-Zein, who read clearly what was writen in a natural way. That could not be done by a human being, but rather a Godly Creation which the fish was born with. He read “God’s Servant” on its belly and “Muhammad” near its head, and “His Messenger” on its tail


LAA ILAA HA ILLALLAH WRITEN IN BRANCHES
One brother on Germany wrote and sent this photo. “The branches clearly say in Arabic that- There is no god but Allah. This is said to be a scene on a piece of cultivated farmland in Germany. Many Germans have been said to have embraced Islam upon seeing this miraculous sight and that the German government put steel fences around the part of the farm to prevent people from visiting and witnessing this miraculous site”

Lapadz “Alloh” yang terbentuk di telingan seorang bayi

Awan yang membentuk Lapadz “Alloh“, kejadian ini diabadikan oleh seseorang di Mekkah

MEKKAH BERKILAU –Ini adalah hasil pencitraan dari IKONOS Satelite milik Space Imaging Inc, AS. Masjidil Haram yang ‘diintai’ oleh AS pada 31 Oktober 1999 itu menampilkan fenomena menakjubkan. Terlihat di gambar hanya bagian Masjidil Haram saja yang berkilau sementara bangunan di sekitarnya tampak lebih gelap. Subhanallah. (NASA Astronomy Picture of The Day) (sumber : http://www.spaceimaging.com/gallery/ioweek/archive/01-12-09/index.htm)


MOSQUE STILL STANDS AFTER EARTQUAKE IN TURKEY
A mosque still stands amidst the rubble of collapsed buildings in this aerial view of a neigborhood in the western Turkish town of Golcuk, 60 miles east of Istanbul, August 19, 1999. The death toll from western Turkey’s worst recorded eartquake surpassed 6,000, as hope waned of finding any of the thousands still missing under the mountains of rubble.


Menurut pemiliknya kalau dilihat dari dekat Gambar di atas
menunjukkan kalimah “Lailahaillah” terbentuk pada seekor ikan


KEAGUNGANNYA DALAM HATI

 

“lebur aku di saat ini…”

“hilang aku di kala ramai”

“Sesat aku di kala terang”

Aku dan DIA….

Tidak dapat lagi dibezakan……:D

Aku kah DIA….?

DIA kah Aku….?

Aku hanya AKU

DIA tetao DIA

Aku tahu DIA ada dekat dengan diriku…

Aku tahu DIA ada dalam Rahsia Diriku

Aku tahu DIA tetap Rahsia….

Aku Bukan Hakiki….

Aku hanya DIA…..

DIa Hakiki…

Aku lebur tanpa bara pan…

Jangan memuji kecantikan pelangi
Tapi pujilah Allah
Yang menciptakan Langit & Bumi
Jangan percaya
Denga kata-kata bijakku
Tapi percayalah Firman Allah yang Maha Benar
Jangan masukkan namaku di hatimu
Tapi masukkan nama Allah
Hingga hatimu tenang
Jangan sedih jika cintamu di dustakan
Tapi sedihlah jika engkau dustakan Allah
Jangan pula engkau minta cinta kepada penyair
Tapi mintalah kepada Allah
yg memiliki cinta yg kekal dan sejati
Ya Allah yang Maha Rahman & Rahim
Jangan jadikan hatiku batu yg mengeras
Hingga lupa akan rahmatMu

Tauhid : Ruh Makrifat Hamba Allah

Atmonadi,
Tulisan ini merupakan bagian dari Bab 6 Risalah Mawas

“Kun Fa Yakuun :Mengenal Diri, Mengenal Ilahi” .
6.10 Tauhid : Rahasia dan Ruh Ma’rifat Hamba Allah
Allah berfirman,
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia (QS 2:163)”
“Tuhan kamu adalah Tuhan yang maha Esa (QS 16:22)”
“Katakanlah: Dialah Yang maha Esa (QS 112:1)”.
Itulah beberapa mutiara tauhid yang disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’an                                                                                                                  sebagai pentauhidan akan ke-Esa-an Diri-Nya. Maka secara harfiah,                                                                                                                                                       tauhid  adalah Mengesakan Tuhan. Al Ghazali dalam kitab Raudhah Al-Thalibin Wa Umdah Al-Salikin [16] mengartikan
tauhid sebagai menyucikan Al-Qidam dari sifat al-huduts (baru),                                                                                                                                  menjauhkannya dari segala sesuatu yang baru, sehingga seseorang tidak kuasa melihat dirinya bernilai lebih terhadap                                                             yang lainnya. Artinya, dirinya menjadi tiada atau fana.
Sebab bila dia melihat kepada dirinya sendiri atau orang lain disaat dia berada dalam kondisi mentauhidkan Al-Haqq,                                                              maka akan terjadi dualisme, dan itu berarti
tidak mengesakan terhadap Dzat-Nya yang qadim, yang memiliki sifat Esa dan
Tunggal (disinilah Iblis tertipu sehingga menolak perintah Allah). Keesaan
sebagai Yang Tunggal sebagai makna tauhid pada hakikatnya berkaitan erat
dengan pengenalan yang baru (semua makhluk) terhadap yang qidam. Maka
dalam siklus makrifatullah tak pernah berhenti, tauhid merupakan ujung dari
makrifat dari yang menyaksikan, ia dikatakan rahasia dan ruh dari makrifat.
Namun, tauhid juga merupakan awal dari makrifatullah, karena di ujung
perjalanan makrifat si pencari (salik) akan mengalami penyaksiannya di awal
mula sebelum ia menjadi dirinya (sebelum ruhnya ditiupkan ke dalam jasad) (QS 7:172).
Dengan demikian menjadi jelas bahwa ketika seseorang mencapai suatu
totalitas tauhid yang benar berupa penyaksian akan Allah sebagai Tuhan Yang
Esa, tidak ada pengakuan bahwa dirinya telah sampai, karena pengakuan akan
menyebabkan suatu bencana baik bagi dirinya yang diliputi kesombongan diri,
atau hanya sekedar ilusi yang menipu dirinya sendiri. Dalam banyak aspek,
pengungkapan makrifat dimungkinkan apa adanya, seperti Nabi Muhammad
SAW menceritakan Isra & Mi’rajnya, sebagai suatu dzauqi atau citarasa ruhaniah
penyaksian hakiki sehingga darinya akan muncul berbagai pengungkapan
lahiriah berupa puisi, prosa, dan bentuk-bentuk pengungkapan lainnya. Ada yang
boleh disiarkan sebagai suatu berita kenikmatan yang memang harus ditebarkan
sebagai sebuah rahmat, ada juga yang harus disembunyikan karena bisa
menimbulkan fitnah baik bagi dirinya, para munafik dan ateis, maupun orang
yang mengikutinya dengan kebodohan dan tanpa ilmu sehingga yang muncul
dari pengikut yang bodoh adalah pengakuan-pengakuan palsu.
6.10.1 Pengertian Tauhid
[10]
Menurut Al-Qusyairy an-Naisabury, “Risalatul Qusyairiyah”, Tauhid adalah
suatu hukum bahwa sesungguhnya Allah SWT Maha Esa, dan mengetahui
bahwa sesuatu itu satu bisa dikatakan tauhid juga. Sehingga, menauhidkan
sesuatu yang satu merupakan bagian dari keimanan terhadap yang satu itu.
Makna eksistensi Allah SWT sebagai Yang Esa adalah suatu penyifatan yang
didasarkan ilmu pengetahuan. Dikatakannya bahwa Allah SWT adalah
Ketunggalan Dzat, sehingga “Dia Adalah Dzat Yang tidak dibenarkan untuk
disifati dengan penempatan dan penghilangan.” Selanjutnya banyak ahli hakikat
yang mengatakan bahwa arti bahwa Allah SWT itu Esa adalah penafian segala
pembagian terhadap dzat; penafian terhadap penyerupaan tentang Hak dan
Sifat-sifat-Nya, serta penafian adanya teman yang menyertai-Nya dalam Kreasi
dan Cipta-Nya.
Hujwiri dalam “Kasyf al-Mahjub”[33] dan Al Qusyairy[10] dalam kitab Risalahnya,
membagi pengertian tauhid menjadi tiga kategori yaitu :
•  Tauhid Allah SWT oleh Allah SWT, yaitu ilmu dan pengetahuan-Nya
bahwa sesungguhnya Dia adalah Esa.
•  Tauhid Allah SWT oleh makhluk, yaitu ketentuan-Nya bahwa makhluk
adalah yang menauhidkan dan menjadi ciptaan-Nya, atau disebut
tauhidnya hamba dan penegasan tauhid ada dalam hatinya.
•  Tauhid Allah SWT oleh manusia yaitu pengetahuan hamba bahwa Allah
SWT Yang maha Perkasa dan Agung adalah Maha Esa.
Pada tauhid yang pertama, maka ketauhidan-Nya hanya dapat terpahami oleh
ilmu dan pengetahuan-Nya, dimana Yang Memahami ketauhidan Allah oleh Allah
adalah Allah sendiri atau penetapan-Nya pada makhluk pilihan-Nya Sendiri.
Dalam hal ini yang mendapat kemuliaan itu adalah Nabi Muhammad SAW
dimana beliau dapat memperoleh kekuatan dan memperlihatkan eksistensi Allah
dari luar non-eksistensinya pada saat peristiwa Mi’raj. Sehingga, Yang Ada
adalah Allah semata. Dalam pengertian demikian, makhluk yang mengetahui
berdasarkan pengetahuan-Nya hanya mampu sekedar berkata bahwa “aku
mengenal Allah dengan Allah” dengan tabir sebagai suatu sifat ar-Rububiyyah.
Hakikatnya, seperti yang sering diungkapkan oleh Rasulullah SAW dan para
sahabat tersebut adalah ujung dari Ma’rifat al-Haqq, dalam batas-batas yang
sangat dekat (Qabaa Qausaini atau lebih dekat lagi), tetapi bukan merupakan
Ma’rifat Dzat Allah karena hanya Dialah yang dapat menauhidkan-Nya.
Meminjam istilah Ibnu Arabi, maka tauhid yang pertama bisa dikatakan sebagai
al-Hirah al-Ilahiyah atau Kebingungan Ilahiyah yang dialami makhluk setelah
mencapai maqam tertinggi yaitu Mi’raj Nabi SAW. Dan hanya Nabi Muhammad
SAW lah yang berhak mengatakan dengan penyaksian utuh “aku mengenal
Allah dengan Allah”. Para sahabat, wali, dan kaum arifin sesudahnya berada di
bawah maqam nabi SAW tersebut, sehingga dalam sabdanya Nabi Muhammad
SAW berkata “Saya bersama Allah dimana tidak seorangpun dari malaikat atau
nabi bisa berada bersama saya.” Tauhid Allah oleh Allah karena itu dikatakan
“Yang Ada hanyalah Dia”. Dan bagi mereka yang mengikuti jejak Nabi
Muhammad SAW maka mereka mentauhidkan melalui dirinya karena tanpa “Nur
Muhammad dan Muhammad SAW” semua makhluk akan musnah. Secara
eksak, hal ini berarti bahwa tanpa “Nur Muhammad dan Muhammad SAW”
semua makhluk tidak pernah diciptakan oleh Allah SWT. Inilah makna awal dan
akhir dari esensi penciptaan melalui       firman “Basmalah” dan “Kun” yang
dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai “Yang Petama Kali”
diciptakan dan yang “Yang Paling Akhir” dimunculkan, yang “Lahir sebagai Nabi
Muhammad SAW hamba Allah” dan “Yang Batin sebagai Nur Muhammad”
(penyisipan kata sambung “dan” harus dipahami dengan logika kuantum yang
tidak terbedakan, Lihat juga QS al-Hadiiid ayat 3).
Pada tauhid yang kedua, maka Tauhid-Nya Allah oleh makhluk adalah suatu
penghambaan mutlak dari semua makhluk yang eksis setelah kehendak “Kun Fa
Yakuun”. Maka, pentauhidan yang muncul adalah suatu ketentuan baik yang
berupa penetapan-penetapan, sunnatullah yang pasti dan tidak pasti, puja-puji,
dan tasbih semua makhluk dari maujud yang paling elementer sampai maujud
yang nyata membangun relativitas dari yang baru (dari makhluk), dari
nanokosmos ke makrokosmos, dari ‘alam al-mulk sampai ‘alam al-jabarut.
Penegasan tauhid yang terdapat dalam semua makhluk, karena itu adalah
penegasan dalam hati, sebagai suatu hakikat paling elementer dan halus bahwa
semua makhluk mengada semata-mata karena curahan rahmat dan kasih
sayang-Nya semata. Pada tauhid kedua ini, Abu Bakar As Shiddiq r.a.
mengatakan bahwa tauhid adalah perbuatan Ilahi dalam hati makhluk-Nya. Maka
dikatakan bahwa pentauhidan Allah SWT oleh makhluk adalah pentauhidan dari
ciptaan-Nya, atau yang diciptakan-Nya dengan kehendak firman “kun fa yakuun”.
Jadi tauhid kedua adalah tauhid semua alam semesta (al-Aalamin) beserta
semua isinya, yang memuja dan memuji hanya kepada Penciptanya, juga karena
Dialah Allah yang Maha Memelihara (QS 1:2), maka tiada Tuhan selain DiriNya.
Disini semua makhluk harus menauhidkan Allah SWT           dengan secara total
menafikan eksistensi dirinya sendiri sebagai maujud, sehingga makhluk harus
mengatakan “Tidak ada Tuhan Selain Allah (Laa ilaaha illaa Allaah)”.
Tauhid yang ketiga adalah Tauhid Allah oleh manusia melalui pengetahuan-Nya
yang dianugerahkan kepada manusia berupa akal pikiran dan kehendak bebas
untuk memilah dan memilih. Pentauhidan Allah SWT oleh manusia adalah
pentauhidan untuk makhluk yang menyaksikan pertamakali dan makhluk yang
disempurnakan sebagai Insan kamil. Maka, manusia yang menauhidkan Tuhan
sebagai Yang Esa adalah ia yang melakukan pencarian atau dianugerahi
makrifat pengenalan secara langsung. Pencarian adalah wasiat Allah yang
ditauhidkannya, maka ia yang mencari adalah ia yang akan berjalan dari awal
dan sampai ke awal kembali. Ia yang mampu memecahkan rahasia eksistensi
dirinya  melalui  dirinya  sendiri   untuk  kemudian    mengenal    Dia   yang
ditauhidkannya. Inilah tauhid yang identik dengan pengertian “Man arofa
nafsahu, faqod arofa robbahu”. Tauhid demikian adalah tauhidnya hamba Allah
yang mesti menegaskan ketauhidan Allah SWT melalui profil manusia yang
paling disempurnakan yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai hamba Allah dan
Kekasih Allah. Maka tauhid manusia seperti ini adalah “Tidak ada Tuhan Selain
Allah, dan Muhammad SAW adalah Utusan Allah (Laa ilaaha illaa Allaah,
Muhammadurrasulullah)”     Dan dengan demikian, bagi manusia dan semua
makhluk-Nya maka tauhid ketiga adalah tauhid Yang Awal dan juga tauhid Yang
Akhir (QS 57:3), yang merupakan rahmat bagi seluruh alam. Tanpa melalui
penauhidan ketiga ini, maka tauhid manusia (dan jin) menjadi tidak sempurna.
Kendati seseorang dapat memulai dari ketauhidan kedua, yakni Tauhid Allah
oleh makhluk sebagai makhluk elementer, namun tauhid kedua adalah tauhid
bagi makhluk non sintesis yang berjalan dengan berjalannya sang waktu sebagai
suatu qadā. Maka ia yang tidak memulai dari tauhid ketiga hanya mendapat
sekedar pengampunan, karena Tauhid kedua adalah tauhidnya manusia pertama
yaitu Nabi Adam a.s. Dan pengampunan, seperti halnya ampunan yang
dianugerahkan kepada Adam dan Hawa sebagai suatu hidayah untuk mereka
dan anak cucunya, tidak lebih dari awal mula perjalanan makrifat manusia, yaitu
awal mula dari manusia pertama menyadari kesadaran diri yang teosentris
bahwa ada Tuhan Yang Esa. Rasululllah SAW bersabda :
“Ada seseorang dari generasi sebelum zaman kamu sekalian yang sama sekali
tidak pernah beramal baik kecuali bahwa ia bertauhid saja. Orang itu berwasiat
kepada keluarganya,’Bila aku mati, bakarlah aku dan hancurkan diriku,
kemudian taburkan separuh tubuhku di darat dan separuhnya di laut pada saat
angin kencang.’ Keluarganya pun melakukan wasiatnya itu. Kemudian Allah
SWT berfirman kepada angin,’Kemarikan apa yang kamu ambil.’ Tiba-tiba orang
tersebut sudah berada disisi-Nya. Kemudian Allah SWT bertanya kepada orang
tersebut,’Apa yang membebanimu sehingga kamu berbuat begitu?’ Dia
menjawab,’Karena malu pada-Mu.’ Kemudian Allah SWT mengampuninya.” (HR Bukhari)
Tauhid ketiga sebenarnya ekor yang memutar kearah kepala, jadi tauhid ketiga
yaitu Tauhid Allah oleh manusia adalah suatu kewajiban bagi semua manusia
dan jin, suatu lingkaran perjalanan yang menutup dimana awal dan akhir
bertemu, yaitu tauhid Allah oleh Allah dan tauhid Allah oleh manusia yang
menyambung tanpa kelim (tanpa kelihatan sambungannya, tetapi tahu bahwa
disitulah  sambungannya,     seperti pita  mobius    yang   memelintir   saling
memunggungi), atau katakanlah suatu sambungan yang saling memunggungi.
Maka menjadi jelas bahwa dalam tauhid ketiga, antara manusia yang
menauhidkan dan Allah yang ditauhidkan saling memunggungi, dan diantara
keduanya adalah alam semesta sebagai wadah pembelajaran bagi makhluk
yang disempurnakan yaitu manusia sebagai hamba Allah.
6.10.2 Hakikat Penauhidan dan Hamba Allah
Kalau tauhid pertama sampai ketiga saya buat secara skematis, maka diperoleh
gambaran    relasional  tauhid  yang   sebenarnya   identik  dengan    deduksi
pendekatan kosmologis yang telah diulas pada Bab 2.2.3.
Tauhid Allah ↔ oleh Allah
Tauhid Allah ↔ oleh makhluk (alam semesta)
Tauhid Allah ↔ oleh manusia
Relasi kosmologis yang diulas pada Bab 2.2.3 adalah :
Allah  Alam Semesta  Manusia
Dari kesamaan makna secara simbolis antara menauhidkan Allah dalam semua
tingkatan tersebut dengan relasi kosmologis yang dideduksi dari Al Qur’an ,
maka dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai hamba Allah lah akhirnya yang
dapat menauhidkan Allah SWT sebagai Yang Esa secara formal lahir dan batin,
dan seseorang hanya dapat melakukan hal ini jika dan hanya jika dia mampu
menyingkapkan jatidirinya atau hakikat dirinya yang diungkapkan dengan
“Mengenal    Diri,  Mengenal    Ilahi”. Cermin perantara  atau   wahana    dari
penyingkapan tersebut adalah “alam semesta dan dirinya” seperti disebutkan
dalam firman Allah “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda
(kekuasaan) Kami pada segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri.(QS 41:53).                                                                                                                              ”Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jilani r.a., sebab atau sarana adalah
suatu keharusan yang mesti ada, walaupun Allah Mahakuasa untuk memberi
hidayah pada seseorang tanpa medium para nabi. Akan tetapi, Allah tidak dapat
didikte oleh makhluk, maka mengharap atau mengira diri dapat berjalan tanpa
panduan (dari yang sudah disempurnakan) adalah kesombongan yang berbuah
ilusi yang menyesatkan. Bukankah Nabi SAW bersabda, “Orang Mukmin adalah
cermin bagi orang Mukmin.” Dan dengan demikian juga, maka manusia yang
telah mengenal jatidirinya adalah dia yang menyimpan hakikat dan bentuk dari Al
Qur’an sebagai sebuah Kitab Allah SWT yang menjelaskan segala sesuatu baik
tentang dirinya, manusia lainnya, alam semesta, dan Tuhannya sesuai dengan
firman, “Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu” (QS 7:89) (Lihat juga
uraian di bab 3 tentang al-Fatihah).
Kalau saya tarik kesimpulan dari bertautnya tauhid pertama, kedua dan ketiga
sebagai sebuah lingkaran menjadi suatu totalitas tauhid yang utuh, maka
diperoleh pengertian yang sangat sufistik bahwa pertautan semua tauhid
tersebut tidak lain menunjukkan adanya kedekatan yang sangat jelas antara
Nabi Muhammad SAW sebagai hamba Allah dengan Allah SWT, antara abdi
dengan Khaliq-nya, antara budak dengan Tuannya, antara yang mencintai dan
Yang Dicintai, antara yang diciptakan dengan Yang Menciptakan. Sehingga,
pentauhidan sebagai suatu Totalitas Tauhid adalah suatu kalimat yang sering
diungkapkan oleh kaum sufi, dan banyak juga disalahpahami,yaitu “La Huwa
illaa Huwa – dia (Muhammad) bukan Tuhan tetapi tidak lain dari pada-Nya.”
[120]
Menurut pendapat Profesor H. Sahabudin, dalam telaahnya yang
komprehensif mengenai Nur Muhammad, makna “La Huwa illaa Huwa”
dikatakannya lebih  bersifat preventif  karena  kalimat  tersebut   tidak
mengisyaratkan adanya proses bersatunya Muhammad SAW dengan Allah SWT,
tetapi justru hanya menggambarkan betapa beliau tidak dapat dipisahkan
dengan Tuhannya. Dengan kata lain, pengertian “La Huwa illaa Huwa”
menunjukkan adanya dua substansi yang tidak berubah menjadi satu, namun
keduanya tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Akan tetapi,
menurut H. Sahabudin, bila hal itu benar terjadi maka hal ini hanya dapat
dipahami terbatas dalam konteks naluriah atau citarasa (Dzauqi) semata,
dengan kata lain ungkapan yang verbal tidak memadai untuk mengungkapkan
makna sebenarnya dari kalimat “La Huwa illaa Huwa”. Jika tidak, maka yang
timbul adalah suatu kebingungan yang dapat dinilai sebagai suatu kemusyrikan
dan kufur. Jadi, pengungkapan “La Huwa illaa Huwa” pada hakikatnya
mengungkapkan antara rahasia kedekatan hamba Allah (Muhammad SAW)
dengan Allah SWT.
Pemaparan kata huwa sendiri untuk Allah dan rasul-Nya menunjukkan betapa
Allah SWT dan rasul-Nya tidak dapat dipisahkan. Hal ini relevan dengan
pengertian yang diungkapkan dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Barang
siapa yang melihat saya (Muhammad SAW) maka sesungguhnya ia telah
melihat Allah SWT.”1 Jadi, Rasulullah SAW sendiri mempunyai sifat sebagai 1
HR Imam al-Bukhary, Shahih al Bukhary pada kitan al-Ruya, bab 43 serta beberapa periwayat lainya
seperti dikutip oleh ref 120
penabir bagi hamba Allah lainnya sehingga seorang hamba yang melihat Allah
SWT dalam penampakkan-Nya sebagai Nabi Muhammad SAW tercegah dari
kemusnahan. Kondisi demikian misalnya ditemui pada pengalaman spiritual Abu
Yazid Al Busthamy yang ber-”tajalli” dengan Tuhan melalui Muhammad SAW
atau Hakikat Muhammadiyah.
Penegasan bahwa manusia dapat bertajalli dengan Nabi Muhammad SAW harus
dipahami sebagai melihat dengan penglihatan Nabi Muhammad SAW, dan inilah
penglihatan yang sempurna. Dalam pengertian demikian, maka Nabi Muhammad
sebagai pemberi petunjuk dan pembawa rahmat adalah seperti yang
dikonfirmasikan dalam firman berikut,
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi,
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,
supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
menguatkan (agama) Nya, membesarkan-Nya.
Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu
sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. (QS 48:8-10)”
Kalimat “supaya kamu sekalian beriman” mengandung arti bahwa beriman
kepada Muhammad SAW mesti sebagai subyek (pemberi risalah) dan sebagai
obyek (yang diberi risalah). Karena itu, kalimat tauhid yang berlaku bagi Umat
Islam –bahkan semua makhluk – yang formal dan resmi secara hukum adalah
kalimat syahadat “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah
Utusan Allah”. Disini, sisipan kata sambung “dan” menjadi jelas sebagai suatu
pengertian kuantum yang tidak terbedakan, suatu makna hakiki atas Pengesaan
Tuhan yang mencerminkan pengertian lahir dan batin yang menunjukkan
penetapan keimanan yang benar.
Dalam konteks “Nur Muhammad dan Nabi Muhammad SAW” sebagai suatu
perantara maka pantulan Cahaya Allah sebagai Cahaya Diatas Cahaya adalah
suatu cahaya hakiki yang dapat memusnahkan semua makhluk. Sehingga, “Nur
Muhammad dan Nabi Muhammad SAW” adalah ibarat cermin kaca yang dapat
meneruskan Cahaya Allah kepada semua makhluk sebagai suatu rahmat bagi
seluruh alam beserta semua isinya. Dialah yang memberikan semua kehidupan.
Sedangkan pengertian sebagai media penyaksian atau filter penyaksian, maka
“Nur Muhammad dan Nabi Muhammad SAW” bersifat melindungi semua hamba
Allah dari menyaksikan dan melihat Allah SWT secara langsung (Ma’rifat Dzat)
dengan sifat-sifat ar-Rububiyyah-Nya. Dalam pengertian fisikal dan eksoteris,
maka “Nur Muhammad dan Nabi Muhammad SAW” sebagai cahaya adalah ia
yang menjadi awal mula penciptaan semua makhluk, ia yang membangun
eksistensi alam semesta yang semula (di singularitas) berupa unifikasi energetis
gelombang gravitasi (membangun alam makro) dan gelombang elektromagnetik
(membangun alam mikro). Maka tidak salah kalau dikatakan bahwa Nur
Muhammad ada dalam semua makhluk-Nya karena memang semua wujud
makhluk mulai dari dunia sub-atomis (kuantum) sampai alam semesta (jamak –
al –Aalamin) itu sendiri berasal dari Nur Muhammad (Lihat uraian Nur

Muhammad dan cahaya di Bab 3).
Kalau saya analogikan apa yang diuraikan oleh H. Sahabudin maupun para sufi
umumnya, yang mengakui totalitas tauhid dengan kalimat “La Huwa illaa Huwa”
maupun dalam bentuk formal sebagai kalimat syahadat, dengan sudut pandang
sains modern, sebenarnya konsep-konsep Teori Kuantum ketika seorang hamba
mencapai suatu kedekatan yang sangat dekat dengan Allah SWT dapat
diterapkan. Sebagai contoh ilustrasi2, ambilah sebuah kapur dan letakkan di
tangan kanan Anda. Ketika Anda tanyakan kepada seseorang “dimanakah
kapur?”. Orang tersebut akan menjawab, “di tangan kanan Anda”Kemudian 2
Analogi Kapur ini saya adopsi dari penjelasan seorang fisikawan yaitu Paul Dirac dari California Institut Of
Technology ketika menjelaskan tentang Teori Kuantum, ref 114. Analogi kapur saya gunakan sebagi
alternatif saja dari sudut pandang teori sains modern, sebenarnya analogi demikian identik dengan analogi
cermin kaca, dimana seorang hamba berkaca kemudian bayangan dalam cermin berkata,”Bukankah Aku
Tuhanmu”…dst yang digunakan dalam Bab 4 untuk menjelaskan tentang hakikat diri manusia sebagai
hamba Allah.
ketika Anda patahkan sebatang kapur itu menjadi dua bagian sehingga tangan
kanan dan kiri Anda masing-masing memegang potongan kapur yang dipatahkan
itu, kemudian Anda tanyakan kembali ke orang tersebut, ”dimanakah kapur?”.
Maka orang yang ditanya akan menjawab, “di tangan kanan dan kiri Anda”.
Analogi demikian, dapat diterapkan untuk menjelaskan pengertian kalimat “La
Huwa illaa Huwa” dan syahadat, maka ketika seseorang menanyakan
“dimanakah Allah?” , maka dijawab “di dalam hamba Allah”. Lalu, ketika
ditanyakan “dimanakah hamba Allah?”, maka dijawab,”di dalam Allah”. Demikian
juga ketika ditanyakan “siapakah Allah?”, maka dijawab,”hamba Allah”. Atau,
ketika ditanyakan “siapakah hamba Allah”, maka dijawab ”Allah”. Demikianlah,
kenapa kemudian pengertian Dzauqi lebih diutamakan dalam mengungkapkan
totalitas tauhid dikarenakan hubungan antara “hamba Allah dan Allah”
sedemikian dekatnya sehingga dalam pengertian logika Teori Kuantum “tidak
terbedakan”, dan memang sulit dipahami kalau hanya sekedar mengandalkan
ungkapan-ungkapan verbal. Sehingga lebih sering dikatakan bahwa kalau
seseorang mengalami hal ini lebih baik “membisu saja”. Apa yang saya
analogikan diatas memperjelas beberapa pendapat kaum sufi tentang tauhid [9]
seperti   diungkapkan      Ruwaim    bin  Ahmad    bin  yazid   al-Baghdadi     ,
”Menghilangkan bekas-bekas sifat manusia (al-basyariyah) dan memurnikan
Sifat Ketuhanan (Uluhiyyah)”. Yang dimaksud dengan ungkapan menghilangkan
bekas-bekas sifat manusia adalah memurnikan akhlak manusia yang penuh
cacat nafsu menjadi sediaka kala, yaitu dalam penyaksian pra-eksistensi dimana
ruhnya yang murni sebagai suatu nur ilahiyah menjadi saksi atas Keesaan Tuhan
(QS 7:172).
Ketika totalitas tauhid tercapai, yakni manusia melakukan suluk dan menyingkap
lapis demi lapis hijab dirinya hingga sampai pada tauhid pertama tauhid “Allah
oleh Allah”,    maka semua penisbahan terhadap makhluk dinafikan, ia akan
menafikan selain-Nya, maka dari relasi tauhid dan kosmologis yang tersisa
hanyalah simetri yang memecah secara mandiri : “Engkau Allah, Yang Maha
Esa.”(QS 7:172); Dia Yang Satu; Allah oleh Allah adalah Satu, Huwa (Dia),
kemudian Anta (Engkau), lantas Hu, akhir segala sesuatu adalah membisu.
Kusyairkan saja tauhid seperti berikut,
Dalam gelombang samudera Asma dan SifatNya,
si hamba melihat hakikat dari yang dilihat,
“Tidak ada sesuatu seperti Dia (Laisa kamitslihi Syai-un)”,
karena sesuatu itu adalah Huwa (Dia).
Dalam gelombang samudera Asma dan SifatNya,
pijakan dan rahasia yang mantap mengakhiri kemabukan,
medan Sirr Al Asrar membuka,
di atas Air Samudera Kemahakuasaan (‘Arsy)-Nya,
kuncup bunga mulai mekar membuka,
tampilkan kelopak aneka warna dan rupa,
wangi semerbak menyelimutinya dalam kelembutan kasih sayang yang
tercurah sebagai rahmat-Nya,
lantas si hamba yang mandiri berkata “Huwa (Dia)”.
Dalam gelombang yang semakin menenang,
dalam keheningan malam tak berbintang,
dia berada dibatas-batas antara tanpa tapal batas,
antara nafs dan ruh,
jaraknya cuma sedekat “Qabaa Qausaini (sedekat dua ujung busur
panah)”, bahkan lebih dekat lagi.
Ketika batas-batas ketetapan telah terlampaui,
si hamba akan berkata “Anta (Engkau)”.
Si hamba pun bisu.
Tanpa kabar. Tanpa berita.
Lantas “Hu”,
menyeruak mandiri dengan kemurnian Nur awal mula
yang menyaksikan Allah Yang Esa,
Iapun menjadi hamba Allah semata.
Ketika si hamba mengatakan “Huwa” maka dimulailah tahap awal kefanaan
dirinya, sedangkan tahap akhir dimana si hamba mengatakan “Anta”, itulah fana
yang sebenarnya. Pada kondisi fana sebenarnya inilah dikatakan oleh Abu Yazid
Al-Busthami[16] bahwa “segala bentuk rumus dan/atau bahasa tidak mampu
mengutarakannya”. Kemudian, dalam kesunyian fana dirinya didalam-Nya,
pemurnian dalam kebaqaan-Nya menyeruakkan “Hu” sebagai ingatan yang
kembali muncul tiba-tiba karena semua aspek lathifah (halus) dirinya termunikan
sejak penyaksian pra-eksistensi dirinya (QS 7:172), sebagai tapal batas terakhir
kemakhlukannya. Pada akhirnya yang menjadi awalnya, totalitas dirinya yang
termurnikan dalam kebaqaanNya adalah hakikat ubudiyahnya sebagai hamba
Allah yang menjalani ketaatan dengan ilmu-Nya, yang mematuhi semua
perintah-Nya dan larangan-Nya, yang menyelaraskan diri dengan sunnatullah
dan kehendak Allah (yakni ridha atas semua takdir Allah), dan yang mengikuti
sunnatulrosul.
Hakikat-hakikat sufistik yang menyingkapkan hubungan manusia dengan
Tuhannya pada akhirnya memang seringkali membingungkan kalangan yang
awam dan tidak teliti. Kendati seringkali disalahpahami sebagai            hulul
(penyuntikan) atau inkarnasi dalam ungkapan-ungkapan verbal al-Hallaj (ana al-
Haqq, Akulah Kebenaran) maupun Abu Yazid (Subhanii, Mahasuci Aku), maka
sebenarnya tidak perlu terjadi kesalahpahaman dari apa yang diungkapkan oleh
kedua sufi tersebut. Pengertian hulul atau inkarnasi sendiri jelas-jelas
sebenarnya tidak memadai, atau bahkan sebenarnya salah sama sekali, untuk
menjelaskan ungkapan-ungkapan dzauqi sufistik dalam tingkatan fana dan baqa.
Karena sejatinya, apa yang dimaksud oleh al-Hallaj maupun Abu Yazid memang
bukan hulul atau inkarnasi, tetapi suatu pemurnian (purification) dimana akhlak
manusia yang fana dan terbaqakan didalam-Nya termurnikan adalah dia yang
kembali menyadari kehambaan dirinya dihadapan Allah SWT Yang maha Esa.
Dan dalam hal ini totalitas tauhid sebagai suatu pengakuan atau ikrar bagi
semua Umat Islam dimana-mana sama yaitu dengan mengikuti apa yang
disebutkan oleh Nabi SAW yaitu kalimat syahadat. Namun yang menjadi
pedoman adalah yang ada di dalam qolbu atau hati, dan bukan yang keluar dari
lisan.
6.10.3 Prinsip Dan Sifat Tauhid
Prinsip tauhid sebenarnya berkaitan dengan totalitas tanpa sambungan.
Sehingga tidak ada pemilahan maupun parsialisasi, maupun penyatuan dan
integrasi, karena kalau itu terjadi maka prinsip tersebut tidak menunjukkan
prinsip tauhid yang hakiki. Sebagai totalitas, maka pengertian-pengertian
temporal, keruangan, dan kesadaran tidak ada. Sehingga penauhidan makhluk
kepada Yang Esa adalah penafian segala sesuatu yang baru. “Tidak ada Tuhan
selain Allah”, adalah penafian atas segala makna-makna yang terpahami oleh
sesuatu yang baru itu yakni semua makhluk. Maka, makhluk sebenarnya hanya
dapat memahami tauhid sebagai Allah SWT Yang Esa dari sisi ilmu dan
pengetahuan-Nya saja. Diluar itu adalah Kebingungan Ilahiah. Ketika sesuatu
yang baru berjalan menyingkap dan menyaksikan sesuatu yang baru lainnya,
maka pada posisi paling akhirnya, yang baru akan tenggelam di dalam hakikat
totalitas. Ketika seseorang sebagai yang baru tenggelam dalam kesaksian akan
Yang Maha Esa, maka yang akan nampak sebagai hakikat segala yang ada
apakah itu kelembutan, kemesraan, keindahan, keagungan, atau pun yang
lainnya, tidak lebih dari Af’al, Asma,Sifat dan Dzat Yang Esa itu sendiri. Maka
Samudera Tauhid adalah samudera yang menenggelamkan samudera lainnya.
Dalam pengertian yang lebih modern, Samudera Tauhid adalah medan didalam
medan, didalam medan, didalam medan, dan seterusnya yang tidak dapat
dipisah-pisahkan. Kalau saya kaitkan pengertian ini dengan pendekatkan Teori
Kuantum Qolbu yang telah diuraikan dalam Bab 5, maka menjadi jelas bahwa
Qolbu Mukminin adalah qolbu yang mampu menampung ketauhidan Allah SWT
Yang Esa, yang pengertiannya selaras seperti dikatakan oleh sabda Rasulullah
SWT “Qolbu Mukminin adalah Singhasana Allah.”
Dalam pengertian yang lebih khusus maka seorang Mukminin adalah hamba
Allah, adalah dia yang menafikan dirinya sendiri sebagai dirinya yang mampu
menampung segala sesuatu yang baru (Laa illaaha), yang ada hanya “Allah
SWT” (illaa Allaah). Sehingga prinsip tauhid sebagai suatu totalitas adalah yang
mampu meluruhkan segala sesuatu (ilmu pengetahuan). Maka prinsip tauhid
adalah “Yang Ada” hanyalah “Dia” – Allah SWT Yang Maha Esa”.
Sifat paling mendasar dalam tauhid karena itu adalah “La ilaaha illaa Allah”.
Didalam pernyataan yang meniadakan Yang lain Selain Allah ini maka terdapat
lima aspek penetapan paling mendasar yang harus diyakini. Kelima aspek ini
menurut Al-Ghazali adalah :
•  Adanya Al-Bari SWT(Pencipta), untuk menolak peniadaannya (ta’thil).
•  Keesaan Allah SWT, untuk meniadakan selainnya atau syirik.
•  Penyucian Dzat Allah dari segala bentuk al-aradh atau al-jauhar
(substansi), atau Penyucian dari segala yang baru, sehingga dengan
keduanya tidak terjadi penyerupaan (at-tasybih). “Laisya Kamitslihi Syai-
un (Tak ada yang serupa dengan-Nya)”.
•  Segala ciptaan-Nya didasarkan pada keinginan dan kehendak-Nya (yang
eksis dengan kemandirian-Nya), agar ia suci dari persoalan sebab akibat.
Maka yang baru selain-Nya eksis dengan limpahan “Basmalah” dan
kehendak “kun fa yakuun”.
•  Dialah yang mengatur segala yang diciptakan-Nya, tidak diatur oleh alam,
bintang, dan tidak juga oleh malaikat. Karena Dialah yang Maha Mendidik
dan Memelihara (Rabb al Aalamin) dan juga dialah yang memberikan
limpahan rahmat dan kasih sayang (ar-Rahmaan ar-Rahiim).
Akan tetapi, sifat mendasar tauhid ini “La ilaaha ilallaah” berlaku pada semua
makhluk yang berada dalam karakteristiknya yang paling mendasar atau
elementer.   Kendati sifat mendasar ini menjadi jembatan antara pentauhidan
Allah oleh manusia dan pentauhidan Allah oleh Allah, maka sifat mendasar ini
hanya berlaku dalam tingkatan hakikat. Secara eksoteris atau fisikal, yang paling
elementer adalah hakikat tetapi bukan al-Haqq sebagai Hakikat Hakiki. Maka,
makhluk sintesis seperti manusia dan jin yang dinisbahkan sebagai yang
diciptakan untuk menyembah Allah harus memulai pentauhidan dari tauhid yang
lebih formal bagi dirinya (sebagai makhluk sintesis bukan makhluk elementer).
Maka ia harus mengikuti tauhid yang dinisbahkan kepada hamba dan kekasih
Allah yang membawa rahmat yaitu Nabi Muhammad SAW. Sifat tauhid bagi
manusia dan jin karena itu adalah kalimah syahadat, “La ilaaha illaa Allah SWT,
Muhammadurrasulullah”. Maka, bisa disimpulkan bahwa syahadat adalah
hakikat Rahmat dan Kasih Sayang Allah yang Maha Memelihara karena Dia
Maha Tahu kapabilitas semua makhluk-Nya karena Dialah yang menentukan
masing-masing potensi dan kadarnya sejak awal mula makhluk diciptakan.
Secara langsung pengertian ini merujuk pada pengertian yang umum dari surat
al-Fatihah sebagai Pembuka, sebagai surat wajib yang harus dibaca Muslim
dalam setiap rakaat shalat, maka tanpa al-Fatihah shalat tidak sah. Dengan
demikian, maka syariat sebagai penghambaan kepada sifat Uluhiyah-Nya
terkonfirmasikan sebagai ubudiyah manusia dan jin dengan perintah-perintah
Allah dan larangan-laranganNya, yaitu shalat lima waktu sebagai hukum yang
harus dipatuhi atau wajib. Jadi, pengertian merobohkan tiang-tiang agama Islam
kalau seseorang ber-KTP Islam tidak melaksanakan shalat lima waktu menjadi
jelas. Sehingga manusia yang menolak syariat dikatakan akan menjadi zindiq
dan bagi yang menolak sifat mendasar tauhid berupa dzikir sebagai hakikat
dikatakan menjadi fasik. Dengan demikian, secara utuh dikatakan bahwa tidak
ada     makrifat   tanpa    akidah(tauhid)-syariat-hakikat  maka      senyatanya
kesatupaduan aqidah – syariat – tarekat – hakikat yang mengendap dalam
setiap Muslim lahir dan batin adalah kesatupaduan makrifat itu sendiri.
Dengan pengertian tauhid yang demikian, maka prosesi penauhidan adalah
prosesi yang dibarengi dengan suatu keadaan penghambaan dan pengetahuan,
bukan penentangan dan kebodohan. Penentangan dan kebodohan inilah yang
dimaujudkan oleh Iblis sebagai hasil dari kebodohan yang menimbulkan
kesombongan karena kadarnya tidak mempunyai kapasitas untuk menampung
aspek keilmuan dari peribadahannya yang telah ia lakukan menurut sementara
tafsir ribuan tahun, ia taklid buta sehingga sifat-sifat Tuhannya tak dipahami, dan
akibat dari Iblis sendiri tidak memahami konsep rahmat dan kasih sayang karena
ia tidak mengetahui hakikat penciptaan. Akhirnya yang muncul adalah kebencian
yang menjadi iri dan dengki kepada Adam yang diciptakan untuk memiliki potensi
ilmu pengetahuan dengan akal pikirannya dan potensi untuk penyingkapan untuk
mengenal Af’al, Asma-asma dan Sifat-sifat Tuhannya. Tipu muslihat Iblis untuk
menjadikan dirinya Tuhan kedua digagalkan oleh Allah SWT dengan telak,
karena Allah Maha Mengetahui, sedangkan Iblis tidak memahami sifat-sifat
Tuhan seperti apa (dalam arti Tuhan itu memiliki sifat seperti apa? Baik ilustratif
maupun berupa realitas penciptaan – Iblis benar-benar tidak tahu. Maka
muncullah keakuannya bahwa diapun pantas menjadi tuhan), sehingga iapun
dikutuk dan terputus dari rahmat Tuhan. Inilah esensi pembangkangan Iblis. Jadi,
menurut saya banyak sebenarnya sufi generasi terdahulu yang keliru ketika
menafsirkan dialog Tuhan dan Iblis di dalam Al Qur’an (lihat uraian sebelumnya
di Bab 4) sehingga kemudian muncul kesimpulan “Iblis Pecinta Ilahi”, “Iblis
memahami Tauhid”, dan kesimpulan lain yang menyesatkan.
6.10.4 Tauhid dan Marifatullah
Menurut Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandari[34], siapapun yang merenung secara
mendalam akan menyadari bahwa semua makhluk sebenarnya menauhidkan
Allah SWT lewat tarikan nafas yang halus. Jika tidak, pasti mereka akan
mendapat siksa. Pada setiap zarah, mulai dari ukuran sub-atomis (kuantum)
sampai atomis, yang terdapat di alam semesta terdapat rahasia nama-nama
Allah. Dengan rahasia tersebut, semuanya memahami dan mengakui keesaan
Allah. Allah SWT telah berfirman,
Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik
dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya
di waktu pagi dan petang hari (QS 13:15).
Jadi, semua makhluk mentauhidkan Allah dalam semua kedudukan sesuai
dengan rububiyah Tuhan serta sesuai dengan bentuk-bentuk ubudiyah yang
telah ditentukan dalam mengaktualisasikan tauhid mereka. Lebih lanjut Syeikh
mengatakan bahwa sebagian ahli makrifat berpendapat bahwa orang yang
bertasbih sebenarnya bertasbih dengan rahasia kedalaman hakikat kesucian
pikirannya dalam wilayah keajaiban alam malakut dan kelembutan alam jabarut.
Sementara sang salik, bertasbih dengan dzikirnya dalam lautan qolbu. Sang
murid bertasbih dengan qolbunya dalam lautan pikiran. Sang Pecinta bertasbih
dengan ruhnya dalam lautan kerinduan. Sang Arif bertasbih dengan sirr-nya
dalam lautan alam gaib. Dan orang shiddiq bertasbih dengan kedalaman sirr-nya
dalam rahasia cahaya yang suci yang beredar di antara berbagai makna Asma-
asma dan Sifat-sifat-Nya disertai dengan keteguhan di dalam silih bergantinya
waktu. Dan dia yang hamba Allah bertasbih dalam lautan pemurnian dengan
kerahasian sirr-al-Asrar dengan memandang-Nya, dalam kebaqaan-Nya.[8]
Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari membagi tauhid dalam konteks
makrifatullah menjadi empat samudera makrifat, berikut ini uraian untuk setiap
tahapan ma’rifat tauhid dengan intepretasi pribadi, yaitu :
•  Tauhid Af’al sebagai pengesaan terhadap Allah SWT dari segala macam
perbuatan. Maka hanya dengan keyakinan dan penyaksian saja segala
sesuatu yang terjadi di alam adalah berasal dari Allah SWT.
•  Tauhid al-Asma adalah pengesaan Allah SWT atas segala nama. Ketika
yang mewujud dinamai, maka semua penamaan pada dasarnya
dikembalikan kepada Allah SWT. Allah sebagai Isim A’dham yang
Mahaagung adalah asal dari semua nama-nama baik yang khayal
maupun bukan. Karena dengan nama yang Maha Agung “Allah” inilah,
Allah memperkenalkan dirinya.
•   Tauhid As Sifat, adalah pengesaan Allah dari segala sifat. Dalam
pengertian ini maka manusia dapat berada dalam maqam Tauhid as-Sifat
dengan memandang dan memusyadahkan dengan mata hati dan dengan
keyakinan bahwa segala sifat yang dapat melekat pada Dzat Allah, seperti
Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), ‘Ilm (Mengetahui), Hayah (Hidup),
Sama (mendengar), Basar (Melihat), dan Kalam (Berkata-kata) adalah
benar sifat-sifat Allah. Sebab, hanya Allah lah yang mempunyai sifat-sifat
tersebut. Segala sifat yang dilekatkan kepada makhluk harus dipahami
secara metaforis, dan bukan dalam konteks sesungguhnya sebagai suatu
pinjaman.
•   Tauhid az-Dzat berarti mengesakan Allah pada Dzat. Maqam Tauhid Az-
Dzat menurut Syekh al-Banjari adalah maqam tertinggi yang, karenanya,
menjadi terminal terakhir dari pemandangan dan musyahadah kaum arifin.
Dalam konteks demikian, maka cara mengesakan Allah pada Dzat adalah
dengan memandang dengan matakepala dan matahati bahwasanya tiada
yang maujud di alam wujud ini melainkan Allah SWT Semata.
Tauhid Af’al pada pengertian Syeikh al-Banjari akan banyak berbicara tentang
kehendak Allah SWT yang maujud sebagai ikhtiar dan sunnatullah manusia yaitu
takdir. Apakah kemudian takdir yang dialami seseorang disebut baik atau buruk,
maka itulah kehendak Allah sesungguhnya yang terealisasikan kepada semua
makhluk yang memiliki kehendak bebas untuk memilah dan memilih, dengan
pengetahuan terhadap aturan dan ketentuan yang sudah melekat padanya
sebagai makhluk sintesis yang ditempatkan dalam suatu kontinuum ruang-waktu
relatif. Tauhid Af’al adalah Samudera Pengenalan, di samudera inilah salik
sebagai pencari wasiat Allah harus mendekat ke pintu ampunan Allah untuk
bertobat dan menyucikan dirinya, menyibakkan pagar-pagar awal dirinya dengan
ketaatan kepada-Nya dan meninggalkan kemaksiatan pada-Nya, mendekat
kepada-Nya untuk menauhidkan-Nya, beramal untuk-Nya agar memperoleh
ridha-Nya. Kalau saya proyeksikan ke dalam sistem qolbu yang diulas
sebelumnya mempunyai tujuh karakteristik dominan, maka di Samudera Af’al
inilah seorang salik harus berjuang untuk me-metamorfosis-kan qolbunya dari
dominasi nafs ammarah, menuju lawammah, menuju mulhammah, dan
mencapai ketenangan dengan nafs muthmainnah.
Dalam Samudera Asma-asma, maka hijab-hijab tersingkap dengan masing-
masing derajat dan keadaannya. Ia yang menyingkapkan, sedikit demi sedikit
akan semakin melathifahkan dirinya ke dalam kelathifahan Yang Maha Qudus
memasuki medan ruh ilahiah-nya (dominasi qolbu oleh ruh yang mengenal
Tuhan). Samudera Asma-asma adalah Samudera Munajat dan Permohonan,
difirmankan oleh Allah SWT bahwa “Dan bagi Allah itu beberapa Nama yang
baik (al-Asma al-Husna) maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut
nama-nama itu (QS 7:180).” Di samudera inilah salik akan diuji dengan khauf
dan raja, keikhlasan, keridhaan, kefakiran, kezuhudan, dan keadaan-keadaan
ruhaniah lainnya. Di tepian Samudera Asma-asma adalah lautan kerinduan yang
berkilauan karena pendar-pendar cahaya rahmat dan kasih sayang Allah. Di
Lautan Kerinduan atau Lautan Kasih Sayang atau Lautan Cinta Ilahi, sinar
kemilau    cahaya   Sang   Kekasih    menciptakan   riak-riak gelombang yang
menghalus dengan cepat, menciptakan kerinduan-kerinduan ke dalam rahasia
terdalam.    Lautan Kerinduan adalah pintu memasuki hamparan Samudera
Kerahasiaan.
Tauhid as-Sifat adalah Samudera Kerahasiaan atau Samudera Peniadaan
karena di samudera inilah semua makhluk diharuskan untuk menafikan semua
atribut kediriannya sebagai makhluk, semua hasrat dan keinginan, kerinduan
yang tersisa dan apa pun yang melekat pada makhluk tak lebih dari suatu
anugerah dan hidayah kasih sayang-Nya semata, maka apa yang tersisa dari
Lautan Kerinduan atau Lautan
Cinta Ilahi adalah penafian diri. Apa yang melekat pada semua makhluk adalah
manifestasi dari rahmat dan kasih sayang-Nya yang dilimpahkan, sebagai piranti
ilahiah yang dipinjamkan dan akan dikembalikan kepada-Nya. Siapa yang
kemudian menyalahgunakan semua pinjaman Allah ini, maka ia harus
mempertanggungjawabkan dihadapan-Nya. Qolbu yang didominasi kerahasiaan
ilahiah didominasi kerahasiaan sirr dengan suluh cahaya kemurnian yang
menyemburat dari kemilau yang membutakan dari samudera yang paling rahasia
sirr al–asrar yakni Samudera Pemurnian dari Tauhid Az-Dzat.
Di tingkatan Tauhid az-Dzat segala sesuatu tiada selain Dia, inilah Samudera
Penghambaan atau Samudera Pemurnian/Tanpa Warna sebagai tingkatan
ruhaniah tertinggi dengan totalitas tanpa sambungan. Suatu tingkatan tanpa
nama, karena semua sifat, semua nama, dan semua af’al sudah tidak ada.
Bahkan dalam tingkat kehambaan ini, semua deskripsi tentang ketauhidan hanya
dapat dilakukan oleh Allah Yang Mandiri, “Mengenal Allah dengan Allah”. Inilah
maqam Nabi Muhammad SAW, maqam tanpa tapal batas, maqam Kebingungan-
kebingunan Ilahiah. Maqam dimana semua yang baru termusnahkan dalam
kedekatan yang hakiki sebagai kedekatan bukan dalam pengertian ruang dan
waktu, tempat dan posisi. Di maqam ini pula semua kebingungan, semua
peniadaan, termurnikan kembali sebagai yang menyaksikan dengan pra
eksistensinya. Ketika salik termurnikan di Samudera Penghambaan, maka ia
terbaqakan didalam-Nya. Eksistensinya adalah eksistensi sebagai hamba Allah
semata. Maka, di Samudera Penghambaan ini menangislah semua hati yang
terdominasi rahasia yang paling rahasia (sirr al-asrar),
Aku menangis bukan karena cintaku pada-Mu dan cinta-Mu padaku,
atau kerinduan yang menggelegak dan bergejolak yang tak mampu
kutanggung dan ungkapkan.
Tapi, aku menangis karena aku tak akan pernah mampu merengkuh-Mu.
Engkau sudah nyatakan Diri-Mu Sendiri bahwa “semua makhluk akan
musnah kalau Engkau tampakkan wajah-Mu.”
Engkau katakan juga, “Tidak ada yang serupa dengan-Mu.”
Lantas, bagaimanakah aku tanpa-Mu,
Padahal sudah kuhancurleburkan diriku karena-Mu.
Aku menangis karena aku tak kan pernah bisa menyatu dengan-Mu.
Sebab,
Diri-Mu hanya tersingkap oleh diriMu Sendiri
Dia-Mu hanya tersingkap oleh DiaMu Sendiri
Engkau-Mu hanya tersingkap oleh EngkauMu Sendiri,
Sebab,
Engkau Yang Mandiri adalah Engkau Yang Sendiri
Engkau Yang Sendiri adalah Engkau Yang Tak Perlu Kekasih
Engkau Yang Esa adalah Engkau Yang Esa
Engkau Yang Satu adalah Engkau Yang Satu.
Maka dalam ketenangan kemilau membutakan Samudera PemurnianMu,
biarkan aku memandangMu dengan cintaMu,
menjadi sekedar hambaMu dengan ridhaMu,
seperti Muhammad yang menjadi Abdullah KekasihMu.
Penguraian tauhid yang dilakukan oleh Syekh al-Banjari memang didasarkan
pada langkah-langkah penempuhan suluk yang lebih sistematis. Oleh karena,
pentauhidan sebenarnya adalah rahasia dan ruh dari makrifat, maka dalam
setiap tingkatan yang diuraikan menjadi Tauhid Af’al, Asma-asma, Sifat-sifat dan
Dzat, sang salik diharapkan dapat merasakan dan menyaksikan tauhid yang
lebih formal maupun khusus, yang diperoleh dari melayari keempat Samudera
Tauhid tersebut. Hasil akhirnya , kalau tidak ada penyimpangan yang sangat
mendasar, sebenarnya serupa dengan pengalaman makrifat para sufi lainnya
yakni pengertian bahwa ujung dari makrifat semata-mata adalah mentauhidkan
Allah sebagai Yang Maha Esa dengan penyaksian dan keimanan yang lebih
mantap sebagai hamba Allah.
Tabel berikut ini memperlihatkan perbandingan beberapa konsep sufistik yang
disusun secara hirarkis, masing-masing dengan tingkatan-tingkatan yang
sepadan sebagai suatu keserbasusunan vertikal dan horisontal. Tabel ini tidak
baku menunjukkan hirarki sistematika kaum sufi. Beberapa perbendaan
mendasar akan ditemui terutama karena pendekatan dan konsep yang berbeda-
beda. Informasi yang tercantum dalam tabel adalah konsep sistematika
kesatupaduan sufistik-sains modern yang saya gunakan dalam risalah “Kun!”
dan disintesakan dari konsep-konsep sufistik al-Hallaj, Ibnu Arabi, Qusyairy,
Hujwiri, al-Banjari, Al-Gazhali, filsafat Integralisme, dan beberapa sumber
lainnya.
Tabel. Perbandingan hirarkis konsep-konsep sufistik-sains modern
6.10.5 Tauhid Menurut Pandangan Para Ahli Hakikat
Berikut ini akan diuraikan beberapa pandangan ahli hakikat tentang tauhid yang
dikompilasi dari beberapa sumber sebagai suatu perbandingan.
Al-Junayd ditanya seputar tauhid, jawabnya,”Menunggalkan Yang ditunggalkan
melalui pembenaran sifat Kemanunggalan-Nya, dengan Keparipurnaan Tunggal-
Nya, bahwa Dia adalah Yang Maha Esa, Yang tidak beranak dan tidak
diperanakkan, dengan menafikan segala hal yang kontra, mengandung keraguan
dan keserupaan; tanpa keserupaan, tanpa bagaimana, tanpa gambaran dan
tamsil. Tiada sesuatupun yang menyamai-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi
Maha Melihat. “
Al Junayd juga berkomentar, “Bila akal para pemikir sudah mencapai ujungnya
dalam Tauhid, akan berujung pada kebingungan.” Saat ditanya kembali soal
tuhid, al-Junayd menjawab,”Suatu makna yang mengandung rumus-rumus, dan
didalamnya terkandung sejumlah ilmu. Sedangkan Allah sebagaimana Ada-Nya.”
Ketika ditanya mengenai tauhid kalangan khusus, al-Junayd berkata,”Hendaknya
hamba menengadahkan di sisi Allah SWT; dimana urusan-urusan Allah berlaku
disana dan lintasan hukum-hukum kekuasaan-Nya dalam arungan samudera
tauhid-Nya, melalui fana dari dirinya, fana dari ajakan makhluk dan menjawab
ajakannya, melalui hakikat Wujud-Nya, dan kemanunggalan-Nya dalam hakikat
kedekatan pada-Nya, dengan cara menghilangkan rasa dengan geraknya karena
Tegaknya Allah     SWT   sebagaimana      kehendak-Nya;   yaitu  sang  hamba
dikembalikan pada awalnya. Sehingga ia sebagaimana adanya, sebelum dirinya
ada.”
Menurut al-Junayd kata-kata paling mulia dalam tauhid adalah yang diucapkan
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., “Maha Suci Dzat Yang menjadikan jalan bagi
makhluk-Nya untuk mengenal-Nya, kecuali dengan cara merasa tak berdaya
mengenal-Nya.” Menurut al-Junayd, yang dimaksud Abu Bakar adalah, “Allah
SWT tidak bisa dikenal. Sebab menurut ahli hakikat, yang dimaksud dengan tak
berdaya adalah tak berdaya dari maujud, bukan tak berdaya dalam arti tiada
sama sekali (ma’dun). Seperti tempat duduk, ia tak berdaya dari duduknya
seseorang. Karena ia tidak bisa berupaya dan berbuat. Sedangkan duduk itu
sendiri maujud di dalamnya. Begitu pula orang yang arif (mengenal Allah SWT)
tak berdaya dengan ma’rifatnya. Sedangkan ma’rifat itu maujud didalamnya,
karena sifatnya yang langsung. Menurut kalangan sufi, Ma’rifat kepada Allah
SWT pada ujung terakhirnya adalah bersifat langsung. Ma’rifat yang dilakukan
melalui usaha hanya ada pada permulaan, walaupun ma’rifat itu mencapai
hakikat. Ash Shiddiq r.a. sedikitpun tidak memperhitungkan ma’rifat yang
disandarkan pada ma’rifat langsung, seperti lampu, ketika matahari terbit dan
cahanya membias pada lampu itu.” Lebih jauh al-Junayd mengatakan, “Tauhid
yang dianut secara khusus oleh para sufi, adalah manunggalkan Yang Qadim
jauh dari yang hadits, keluar meninggalkan tempat tinggal, memutus segala
tindak dosa, meninggalkan yang diketahui ataupun tidak diketahui, dan Allah
SWT berada dalam keseluruhan.” Al-Junayd juga berkata, “Ilmu tauhid memisah
dengan eksistensinya, dan eksistensinya berpisah dengan eksistensinya.”
Tentang tauhid al-Junayd berkata,”Aku mendengar orang bersyair :
Betapa kaya hatiku
Menjadi kaya seperti Dia
Kami sebagaimana mereka ada
Dan mereka sebagaimana mereka ada.
Orang yang menunggalkan-Nya menurut al-Junayd, “meraih tauhid tertinggi dari
ucapan terendah dan teringan.” [10]
Al-Junayd pernah juga berkata tentang tauhid, “Tauhid adalah pemisahan yang
abadi dari apa yang memiliki waktu.” Riwayat lain menceritakan bahwa al-Junayd
berkata, “Tauhid adalah bahwa seseorang harus menjadi figur (Syeikh) di tangan
Allah; satu figur dimana ketetapan Allah diberikan kepadanya sesuai dengan
ketika Dia dalam kamahakuasaanya ditetapkan. Bahwa seseorang harus
tenggelam dalam lautan keesaan-Nya. Kefanaan diri dan kematian sama bagi
seruan kemanusiaan kepadanya dan jawabannya terhadap seruan tersebut. Ia
tengah asyik berenang dalam realitas keesaan Ilahi dalam kedekatan yang
hakiki, dan hilang dari pikiran dan perbuatan, karena Allah dalam dirinya
memenuhi apa yang telah Dia kehendaki untuknya. Maksudnya, keadaan
terakhirnya menjadi keadaan pertamanya, dan dia mesti seperti sebelum dia
ada.” [33]
Dalam kitab Thawasin [177], Thasin VIII “Kitab Tentang Tauhid”, al-Hallaj bersyair,
“Kebenaran (al-Haqq) adalah satu, unik, tunggal;
Kebenaran adalah Esa yang tidak dapat dibagi-bagi.
Keesaan-Nya, dan pengetahuan tentang keesaan itu
Adalah milik-Nya; berada dalam diri-Nya.
Tidak mungkin, tidak mungkin;
keesaan ini adalah jauh, asing, dan terpisah, dia dikenal hanya
melaluinya.
Pengetahuan mengenai Yang Esa adalah Abstrak; tunggal, tak terbagi.
Mengatakan Dia itu Esa, dan Dia Tunggal adalah untuk menyifatkan;
Tetapi Dia, Yang Esa, adalah diluar penyifatan.
Jika kau berkata, “Aku,”, Ia mengirim balik “Aku,” dalam menjawab
“aku”-ku.
Jadi, “dia” ditujukan untuk Engkau dan tidak untukku.
Dan jika kau berkata Kesatuan adalah Keesaan bagi kesendirian-Nya,
untuk keberadaannya yang sendiri,
berarti aku menempatkan dia dalam ciptaan;
Di antara sarwa makhluk.
Dan jika aku berkata Yang Satu itu tunggal sebagai jumlah satu;
bagaimana ia dapat muncul dalam jumlah?
Dan jika aku berkata, Dia adalah Satu
Akibat dari keberadaan yang dianggap satu, yang memang terbukti satu,-
berarti aku memberi batasan pada dia; membatasi-Nya.
[33]
Dalam kitab “Kasyf al-Mahjub”, Hujwiri menafsirkan perkataan al-Hallaj
“Langkah pertama dalam tauhid adalah memfanakan pemisahan (tajrid)”, maka
dikatakannya bahwa pemisahan sebagai langkah pertama dalam tauhid adalah
pernyataan bahwa sesuatu terlepas dari ketidaksempurnaan, sementara
ketauhidan adalah deklarasi keesaan sesuatu; dengan demikian, dalam ruang
yang kedap (fardaniyah, ruang vakum) amat mungkin menegaskan pada selain
Allah (memunculkan makhluk), dan kualitas ini mungkin bisa diberikan kepada
yang lain selain Allah. Tetapi dalam keesaan (wahdaniyah) tidaklah mungkin
menegaskan selain Allah, dan keesaan tidak mungkin diberikan kepada apapun
selain Allah. Oleh karena itu, langkah pertama dalam tauhid adalah menyangkal
bahwa Allah memiliki sekutu (syark) dan membuang campuran (mizaj), karena
campuran pada jalan menuju Allah seperti mencari jalan dengan pelita.
Pernah ada seseorang bertanya kepada Abu Bakar Dulaf bin Jahdar asy-Syibli
r.a.[9], “Wahai Abu Bakar, beritahukan kepada saya tentang Tauhid Murni, dengan
suatu bahasa yang benar.”Asy-Syibli menjawab, “Celaka kau!!! Barangsiapa
menjawab tentang Tauhid, maka ia adalah orang yang ingkar (mulhid). Dan
barangsiapa memberi isyarat tentang Tauhid, maka ia adalah penyembah
berhala. Sementara orang yang diam tak berkomentar tetang Tauhid adalah
bodoh. Sedangkan orang yang mengira, bahwa ia telah sampai (“wushul”),
sebenarnya ia tidak mencapai apa-apa. Barangsiapa bercerita tentang Tauhid
maka ia adalah orang yang lalai, barangsiapa menyangka, bahwa ia dekat maka
sebenarnya ia adalah jauh. Sementara orang yang berpura-pura mampu
menghayati, maka sebenarnya ia adalah orang yang kehilangan. Sedangkan
segala apa yang Anda bedakan dengan daya imajinasi, dan Anda pahami
dengan akal sekalipun dalam makna yang sempurna menurut Anda, maka
sebenarnya hal itu adalah sesuatu yang diatur dan berasal dari diri Anda, suatu
ciptaan yang baru dan makhluk yang sama dengan Anda.”
Uraian Asy-Syibli ini memang dapat membawa pada kebingungan. Apa yang
dimaksud Asy-Syibli sebenarnya serupa dengan sabda Nabi SAW bahwa
“jangan memikirkan Dzat Allah” identik dengan “Tidak ada yang serupa dengan-
Nya (Laisa kamitslihi syai-un)”, jadi setiap buah pikiran, atau hasil perbuatan
oleh makhluk baik lisan, tulisan, gambaran dan yang lainnya bukanlah apa yang
dimaksudkan sebagai Tauhid Murni. Menurut as-Sarraj, apa yang dimaksud
tentang Tauhid menurut Asy Syibli adalah menjadi Dzat Yang Maha Qadim
sebagai Dzat yang sama sekali berbeda dengan makhluk yang diciptakan
(muhdats). Sementara itu, tidak ada cara lain bagi makhluk kecuali hanya
menyebut-Nya, menerangkan-Nya dengan sifat yang memberi atribut untuk-Nya
sesuai dengan kadar yang bisa diterangkan kepada mereka. Artinya, selama ini
kita menyembah-Nya seperti itu hanya dengan menyebutkan nama-namanya.
Esensinya supaya kita menyembah Allah dengan tauhid yang hakiki, maka
semua Muslim harus melakukan perjalanan ruhani menyingkapkan jatidirinya
sehingga tercapai hakikat tauhid sebenarnya yang sering diungkapkan dengan
“Mengenal Allah dengan Allah” – inilah makna Ihsan yang sebenarnya. Maka
segera lakukanlah perjalananmu!
6.10.6 Esensi Makrifat Dalam Tauhid
Makrifat   dalam   tauhid  sebenarnya    perjalanan-perjalanan   ruhaniah   yang
dilakukan oleh salik dengan suluk, yaitu dengan berpartisipasi langsung sebagai
obyek    sekaligus   subyek makrifat.   Maka    salik yang   ber-jihad  al-akbar
menyibakkan lapis demi lapis hijab dirinya, mengalami hal demi hal, maqam
demi maqam, pada akhirnya mempunyai ketetapan dan keimanan dalam hati
bahwa esensi dirinya adalah tiada, dihadapan Allah SWT dia tidak lebih dari
sekedar hamba-Nya, sehingga ubudiyahnya dihadapan UluhiyahNya adalah
peribadahan dan pengabdian sebagai hamba Allah SWT. Oleh karena itu,
rahasia dan ruh makrifat tidak lain adalah tauhid yang mengesakan Allah
sebagai Yang Maha Esa sebagai awal dan akhirnya. Maka makrifat dalam tauhid
adalah :
Awalnya adalah persaksian padaNya dalam Islam, “Engkau Tuhan kami,
dan Muhammad UtusanMu”.
Pintu-Nya adalah ampunan-Nya,
Ilmu yang menerangi Jalan-Nya adalah Nur,
Hakikat-Nya adalah kesaksian tentang al-Haqq,
Rahasia dan ruh-Nya adalah Tauhid, “Tiada Tuhan selain Allah”,
realitas-Nya adalah hamba Allah,
yang menyaksikan “La Huwa Illaa Huwa”,
formalitasnya bagi semua makhluk adalah “La Ilaaha illaa Allaah,
Muhammadurrasulullah”,
maka Yang Awal dan Yang Akhir adalah yang kembali pada-Nya,
ujung-Nya tak pernah berujung, batas-Nya tak pernah berbatas,
karena Al-Huwa bukan berasal dari diri-Nya,
bukan didalam-Nya,
tidak berada pada selain-Nya,
maka tinggalah kebingungan demi kebingungan,
disinilah letak al-Hirah al-Illahiyah (Kebingungan Ilahiah) .
Sehingga ketika ia tiada dalam Dia Yang Selalu Ada, maka
Diapun kembali ke awal mula sebagai yang menyaksikan KeesaanNya.
Ketika sebuah cermin mengada mandiri,
disitu engkau kan lihat bayanganmu berkata-kata,
”Bukankah Aku Tuhanmu?”
engkau yang terfanakan dalam Samudera Pemurnian
cuma mampu menyaksikan dengan pra-keabadian
yang terfirmankan Dia Sendiri,
“Benar,
Engkau – ”Allah”, Yang Maha Esa,
Engkau tempat bergantung,
Engkau tidak beranak dan tidak diperanakkan,
Engkau tak disetarakan dengan apapun,
Engkau tak diserupakan dengan apapun.”
Sebuah titik dibawah Baa menjadi Basmalah,
ketika duapuluh dua hurufnya terpisah
Basmalah menjadi lingkaran,
sebuah lingkaran adalah sebuah garis yang melengkung kembali ke awal,
maka awal dan akhir tak terbedakan.
Dialah Yang Maha Esa dengan keesaanNya
6.11 Tauhid Hamba Allah
Hamba yang makrifat adalah hamba yang menauhidkan keesaan Allah dalam
format yang utuh sebagai manusia dari kacamata manusia yang berdarah dan
berdaging (yakni berjasad dan bersyahadat dengan sebenar-benarnya). Namun
mempunyai kekhususan tersendiri di mata Allah SWT karena hamba Allah yang
telah menauhidkan-Nya adalah hamba yang mendapat curahan hujan3
kekhususan dari langit-Nya. Itulah kekhususan yang sudah ditetapkan oleh-Nya
yang sesuai dengan potensinya. Difirmankan dalam Al Qur’an,
“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan
Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu (QS 15:21)”.
Perhatikan bahwa penggunaan “Kami” dalam ayat diatas mengisyaratkan bahwa
kesalehan tidak akan datang begitu saja dengan sekedar duduk berkhalwat
sambil tetap memelihara kebodohan. Berjalanlah dengan pencarian sebagai
“Sang Pecinta Yang Mencari Cinta” karena :
Pencarian adalah wasiat Allah pada semua makhluk-Nya.
Carilah ilmu, ulama, dan para pengamal ilmu,
hingga engkau tidak berdiri di tempat.
Mengembaralah dalam pencarian Pengetahuan sejati yang Ilahiyah,
hingga engkau tersadar lahir dan batin.
Ketika engkau telah berhenti,
atau ketika engkau telah ditakdirkan untuk bersilang
di jalan pencarian “Sang Pecinta Yang Mencari Cinta”
dengan “Guru Yang Menyempurnaka ”
3 Curahan Hujan sering digunakan sebagai ungkapan untuk Ilmu Laduni yang berasal dari Allah SWT
maka akan datang kepadamu kedekatan dengan Allah
dan engkau akan menuju dan sampai pada-Nya.
Ketika pasrah menghamparkan permadani keikhlasan yang tulus tanpa
batas,
maka semua kekosongan diri dengan keikhlasan adalah
wadah bagimu yang siap menerima apapun juga.
Kilatan nur yang melintas dan menetap
adalah tanda hujan yang akan turun dari langit ke bumi hatimu,
yang akan menumbuhkan segala sesuatu.
Bumi hatimu adalah ladang kesuburan
yang     hanya   akan    terus    menyubur   dengan    kesungguhan dan
keikhlasanmu.
Dengan pupuk munajat dan dzikir-dzikirmu
Ketika hujan turun dari langit Allah menuju bumi hati,
lalu ia bergetar menumbuhkan segala kebaikan,
rahasia-rahasia, hukum-hukum, nama-nama,
tawakal, syukur, keikhlasan, keridhaan,
mahabbah, tauhid, dan kedekatan dengan Allah
maka sambutlah dengan keteguhan,
keistiqamahan dan ridha.
Maka bumi hatimu akan tumbuh
seperti tumbuhnya bumi dahulu
ketika Asma Kasih Sayang-Nya termanifestasikan
menjadi kehidupan di Planet Bumi.
Dibumi hatimu akan tumbuh segala rupa
tetumbuhan, pepohonan, buah-buahan, padang rumput yang menghijau,
gunung-gunung, sungai-sungai dan akhirnya samudera-samudera.
Ia akan menjadi muara pertemuan semua makhluk
dari jin, manusia, malaikat, dan ruh.
Ini semua tentunya berada di luar pemikiran akal.
Ia lebih merupakan absolusitas qudrah (kekuasaan) dan iradah
(kehendak), dan ilmu pengetahuan yang dinyatakan dengan firman “kun
fa yakuun”, yang dianugerahkan oleh Allah pada seorang hamba,
yaitu sosok-sosok pilihan dari makhluk-Nya.
Dia adalah hamba Allah yang tinggal di bumi
kendati ia sejatinya “Jiwa Pecinta Yang Mengalir Bebas”.
Ketika ia memandang dengan cahaya keimanan-Nya padamu,
maka sambutlah dengan sumringah senyum dan tawa bahagia.
Ketika ruhmu terpaut olehnya, maka jadikanlah ia cermin bagimu
seperti sabda Nabi “Mukmin adalah cermin bagi Mukmin lainnya”.
Ucapkanlah salam kesejahteraan
seperti layaknya malaikat yang mendatangimu.
Dia akan menjadi temanmu
kendati engkau enggan menjadi temannya.
Diapun bisa jadi akan menjadi kekasihmu
bila engkau sanggup menangkap bersitan cahaya kasih sayangnya.
Maka ketika ketulusannya mengundangmu
untuk diperkenalkan pada Kekasih Hati-nya yang hakiki,
sambutlah dengan ketulusan juga.
Sebab, jika engkau sambut dengan yang lainnya,
bagaimanakah dua tangan dapat berjabatan tangan
jika bukan karena sama-sama mempunyai jari yang lima.
Ketahuilah,
di lima jemarinya terukir nama Isim A’dham yang Maha Agung “Allah”.
Dan di setiap jarinya terselip lima nama manusia yang mengubah wajah
dunia,
yang mereformasi akhlak tercela menjadi akhlak yang penuh mulia,
mereka adalah :
Muhammad SAW, Abu Bakar r.a. , Umar r.a., Usman r.a., dan Ali k.w.j.
Didirinya tersimpan hakikat lima nama itu.
Ia telah mengejawantahkannya menjadi Pengetahuan Ilahiah
bagaimana menjadi hamba Allah SWT.
Di hatinya juga tersimpan perbendaharaan Para Guru
dari zaman dulu sampai zaman kini,
bahkan boleh jadi di zaman nanti.
Ketahuilah, perbendahaan para guru sebenarnya cuma satu,
karena sebenarnya memang semua guru membicarakan Yang Satu itu,
itulah ketauhidan tentang ALLAH Yang Esa.
Semua guru sebenarnya menuju ke Yang Satu itu, “Dialah, Yang Awal dan Yang
Akhir, Yang lahir dan Yang Bathin, Yang meliputi segala sesuatu”(QS 57:3). Dan
bagi makhluk-Nya yang mau menerima rahasia Para Guru itu, sebenarnya
terletak pada rahasia yang sederhana, yang sering kita dengar bersama, jadilah
hamba Allah dengan ikhlas dan ridha.        Sebab dengan kehambaanmu maka
engkau akan ketahui Keesaan-Nya sebagai sifat Uluhiyah-Nya yang tak akan
sanggup engkau jangkau dengan apapun juga. Tetapi engkau bisa menyaksikan
dengan sifat ar-Rububiyah-Nya. Maka pesan Para Guru dari waktu ke waktu
adalah pesan yang sama,
Jadilah hamba Allah,
yang mematuhi semua perintah-Nya dan larangan-Nya,
selaraslah dengan kehendak-Nya dengan ridha pada semua ketentuan-
Nya,
ikutilah akhlak dan perilaku Nabi Muhammad SAW,
yang menjadi pemberi petunjuk semua makhluk dan
memberikan rahmat pada seluruh alam dan semua isinya.
Suatu pesan, yang sebenarnya, sangat… sangat… sangat… sederhana dan
mudah… mudah… mudah… untuk diingat, dan sering diutarakan. Pesan-pesan
diatas sebenarnya adalah hukum-hukum asal untuk jin dan manusia yang jelas-
jelas dikonfirmasikan oleh Allah dalam firman, “Dan aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (QS 51:56)”. Akan
tetapi ternyata hukum asal itu menjadi sulit dilaksanakan bagi kebanyakan orang
karena tidak adanya kesadaran akan kehambaannya di hadapan Allah Yang
Maha Esa dan Maha Berkuasa. Seperti diulas dalam Bab-bab sebelumnya,
kesulitan ini nampaknya muncul
karena adanya konsepsi yang keliru yang selama ini tanpa kita sadari diterapkan
sejak Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama,
Sekolah Menengah Umum, sampai Perguruan Tinggi, yang terlanjur dicekoki
konsep materialistik-ateistik bahwa alam semesta cuma sekedar kontinuum
ruang-waktu belaka minus manusia di dalamnya. Maka mata rantai yang
menghubungkan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia dengan dirinya dan
Tuhannya pun terputus. Tauhidpun tanpa disadari sekedar tauhid yang terlontar
dari ucapan tanpa makna yang mendalam, dengan kata lain tanpa disadari
kitapun tidak mentauhidkan Tuhan Yang maha Esa yang jelas-jelas tercantum
sebagai sila pertama dasar negara kita.
Tauhid bagi hamba Allah yang menauhidkan-Nya adalah sejatinya tauhid yang
eksis secara mandiri sebagai suatu cerapan pengalaman ruhaniah yang
dialaminya sendiri secara langsung. Kendati cerapan ruhaniah adalah suatu
anugerah dan hidayah Allah SWT, namun harus disadari adanya prakondisi yang
memang dinisbahkan sebagai amanat dan kewajiban penghambaan kepada
manusia melalui suatu pencarian berkesadaran untuk menyingkap jatidiri
manusia. Sehingga, menjadi penting kehidupan beragama yang benar-benar
merupakan suatu pelakonan yang dihayati dengan ketulus ikhlasan dan
keridhaan sebagai hamba Allah. Tanpa kesadaran demikian maka dia yang
mengaku sebagai hamba Allah boleh jadi dia yang tidak menauhidkan Allah
karena masih ada syirik-syirik halus yang melingkupi dirinya karena dorongan
dirinya pada keinginan-keinginan yang sifatnya dimotivasi oleh kebendaan
semata. Seorang hamba Allah adalah dia yang menghadirkan hatinya untuk
didedikasikan demi Allah semata, bukan karena satu alasan dunia, maupun
akhirat, atau karena makhluk-Nya.
Seseorang yang menjadi hamba Allah sebenarnya adalah seseorang yang
predikat kehambaannya muncul karena penyaksian langsungnya tentang ke-
Esa-an Allah SWT, bukan karena penauhidan yang berasal dari “kata-nya”.
Sehingga, sejatinya memang kehambaan itu mengada secara mandiri karena
citarasa ruhaniahnya yang mencapai titik pemurnian awal mula, yaitu pra-
eksistensi sebelum dia menjadi dia saat ini yang berdarah daging dan memiliki
qolbu dimana didalamnya berkelindan akal, ruh, dan nafsu. Untuk melakukan itu
semua memang diperlukan suatu transformasi diri, tranformasi dari seorang
Pribadi Muslim menjadi hamba Allah yang menauhidkan Allah sebagai “Yang
Maha Esa”. Maka, biarkan aku ungkapkan tentang “Tauhid Hamba Allah”,
dari setiap titik,
dari setiap huruf,
dari setiap ayat,
dari setiap surat,
kusisiri gelombang demi gelombang firman-firman-Mu (al-Quran),
yang muncul mengayun dari Samudera Af’al
membawaku pada pengenalan kepada-Mu,
dengan selubung dalam yang menyingkap semua pelabuhan hati.
Ya Allah,
entah perahu apa yang Engkau sediakan untukku,
gelombang demi gelombang yang kulalui,
deburan dan puncak-puncaknya seperti
berkata-kata;
bercerita tentang diri-Mu,
alam semesta,
dan manusia.
Aku diantaranya
yang Engkau ceritakan dalam firman “kun fa yakuun” :
“Ketahuilah Jiwa (Atmo),
hanya ia yang Ku-kehendaki saja
yang akan Ku-antarkan dalam pengenalan hakiki
tentang engkau dan Aku;
Namamu sudah mencitrakan takdirmu sebagai ia yang akan menjalani
kehidupan seperti air yang mengalir menuju kepada-Ku.
Maka, istiqamahlah dengan ikhlas dan ridha supaya
engkau selalu berjalan di atas air.
Hiasilah dirimu dengan cinta-Ku,
karena Akulah Sang Kekasih hakiki
bagi semua makhluk seperti dirimu dan penghulumu.
Lupakan nyala-nyala pelita yang dapat menghanguskanmu.
Nyala-nyalanya adalah gemerlap lilin-lilin kepalsuan yang akan lenyap
ditebas pedang sang waktu.”
Gelombang demi gelombang
mengayunkan diriku ke dalam samudera-samudera-Mu.
Perahu-Mu tanpa henti,
berlayar dan berlabuh,
dari hal ke hal,
dari maqam ke maqam.
Akupun mabuk dalam Samudera Asma-asma dan Sifat-sifat-Mu,
hingga tak kurasakan lagi apakah hal dan maqamku,
akupun tak peduli lagi.
Kata-Mu,
aku akan Engkau bawa menyaksikan
Kemahaagungan dan Kemahaindahan-Mu,
yang maujud dalam semua makhluk,
dalam semua bentuk,
mereka semua bertasbih,
mereka semua saling menjalin,
berkelindan,
menyusun kesatupaduan yang mewujudkan Kemahakuasaan-Mu.
Semuanya adalah al-Iradah-Mu,
yang getarkan semua makhluk dari Rahmat & Cinta-Mu,
Engkau yang munculkan gelombang awal mula,
Engkau yang letupkan buih-buih kuantum setiap saat,
Engkau yang mengikat materi quark,
Engkau yang membangun inti atom,
Engkau yang membentuk atom,
Engkau yang menjalin molekul,
Engkau yang menjalin jaringan,
Engkau yang membentuk organ,
Engkau yang membentuk obyek,
Engkau yang munculkan semua makhluk dalam semua wujud,
semuanya ada hanya karena kehendak Cinta-Mu.
Duh Gusti…,
Kemahaagungan apakah yang Engkau singkapkan untukku,
dalam belaian Kemahalembutan dan Kemahapemurahan-Mu,
yang tercerap getar-getar qolbuku,
yang mulai melathifah,
tak sanggup lagi merespon,
tak sanggup lagi menerima,
sirnakan semua eksistensi,
semua yang tinggal hanya tampakkan wujud-Mu,
akupun sirna, sirna, sirna,
dalam genggaman dan belaian Kemahalembutan-Mu
dari Kemahaagungan dan Kemahaindahan-Mu.
Di Samudera Dzat-Mu
aku terhempas dalam ketenangan Samudera Pemurnian Tanpa Warna
berada dalam kebingungan-kebingungan
karena disana tak ada lagi tanda-tanda,
apakah af’al, asma-asma, atau sifat-sifat.
Semuanya sirna di maqam tanpa nama.
Lantas, bagaimanakan aku merengkuh-Mu?
aku menangis karna aku tak akan pernah dapat merengkuh-Mu.
Maka kubiarkan Engkau yang memelukku.
Aku terbaqakan didalam-Nya,
tak sanggup berkata-kata.
Bisu.
Lantas,
dalam cintaMu yang semakin termurnikan,
dikelembutan riak gelombang Samudera Tanpa Warna,
Engkaukah yang berbisik dengan kemahalembutanMu?
“hambaKu… hambaKu… hambaKu…Allah… Allah… Allah…”
Siapa bertanya, siapa menjawab?
Siapa menyambut, siapa menyahut?
Atmonadi,
Tulisan ini merupakan bagian dari Bab 6 Risalah Mawas “Kun Fa Yakuun :
Mengenal Diri, Mengenal Ilahi” Release ke-3 (belum dipublikasikan) yang
diterbitkan online (free download) di situs http://www.getwo.com/kunfayakuun
dan http://www.myquran.org/doc/kunfayakuun
.
Referensi
1. Al Qur’an Terjemahan Departemen Agama, 1984
2. Al Qur’an Terjemah Indonesia, PT Sari Agung, Cetakan ke-13, 1999
3. HB Yassin, “Al Qur’an Bacaan Mulia”, Yalco Jaya, Cetakan ke-4, 2002
4. Choiruddin Hadhiri SP, “Klasifikasi Kandungan Al Qur’an”, Gema Insani
Press, 1999
5. Syaikh Hamami Zadah, “Menyelami Lubuk Al Qur’an: Tafsir Surah Yasiin”,
Penerbit IIMAN & Penerbit Hikmah, Februari 2003.
6. M. Quraish Shihab, “Tafsir Al Mishbah”, Jilid 1 & 11, Lentera Hati, 2003
7. Az-Zabidi, Imam, “Ringkasan Shahih Al-Bukhari”, Mizan, Cetakan ke-4,
2000
8. Syeikh Muhammad Nafis Ibn Idris Al-Banjari, ”Ad-Durr An-Nafis: Permata
Yang Indah”, Pustaka Sufi, 2003
9. Abu Nashr as-Sarraj, “Al-Luma”, Risalah Gusti, 2002
10. Al-Qusyairy an-Naisabury, “Risalatul Qusyairiyah”, Risalah Gusti, 1996
11. Al Ghazali, ”Rahasia-rahasia Shalat”, Karisma, Cetakan ke-6, 1992
12. ________, “Hikmah Penciptaan Makhluk”, Risalah Gusti, 2002
13. ________, “Mutiara Ihya Ulumiddin”, Mizan, 1990
14. ________, “Ringkasan Ihya Ulumiddin”, Gita Media Press, 2003
15. ________, ”Ibadah Perspektif Sufistik”,Risalah Gusti, 1999
16. ________, ”Mihrab Kaum Arifin”,Pustaka Progresif, 1999
17. ________, ”Manajemen Hati”, Pustaka progressif, 2002
18. ________, ”Setitik Cahaya Dalam Kegelapan”, Pustaka Progressif, 2001
19. ________, ”Rahasia Zikir dan Doa”,Karisma, Cetakan ke-9, 1999
20. ________, ”Mengobati Penyakit Hati”, Karisma, Cetakan ke-5, 1999
21. ________, ”Adab Mencari Nafkah”, Karisma, 2001
22. ________, ”Orang-orang Yang Terkelabui”, Karisma, Cetakan ke-4, 1999
23. ________, ”Jalan Orang Bijak”, Serambi, Cetakan ke-3, 2002
24. Ibnu ‘Arabi, “Pohon Kejadian (Syajaratul Kaun): Doktrin tentang Person
Nabi Muhammad”, Risalah Gusti, Maret 2000
25. ________, ”Hakikat Lafadz Allah”, Pustaka Progresif, Mei 2000
26. ________, “Selamat Sampai Tujuan”, Serambi, 1997
27. Syekh Abdul Qadir Al Jailani, ”Rahasia Sufi”, Futuh, 2002
28. ________, “Rahasia Dibalik Rahasia”, Risalah Gusti, 2002
29. ________, “Futuh Al-Ghaib”, Kalam Mulia, 2004
30. Al-Harits bin Assad al-Muhasibi, “Memelihara Hak-hak Allah”, Pustaka
Hidayah, 2002
31. ________, “Menuju Hadirat Ilahi”, Al bayan-Mizan, 2003
32. ________, “Tulus Tanpa Batas”, Al bayan-Mizan, 2003
33. Ibnu Usman Al Hujwiri, ”Kasyf al-Mahjub”, Pustaka Sufi, 2003
34. Ibnu Athaillah Al-Sakandari, “Pencerah Kalbu”, Serambi, 2002
35. Said Hawwa, “Penyucian Jiwa”, Robbani Press, 1999
36. __________, “Rambu-rambu Jalan Ruhani”, Robbani Press, 1999
37. __________, “Jalan Ruhani”, Mizan, 1995
38. Syekh Nur ad Din ar Raniri,”Menggugat Manunggaling Kawula Gusti”,
Pustaka Sufi, Juli 2003
39. Bey Arifin, H., “Samudera Al-Fatihah”, PT Bina Ilmu, 2002
40. Achmad Mubarok, Dr.,”Sunatullah Dalam Jiwa Manusia: Sebuah
Pendekatan Psikologi Islam”, IIIT Indonesia, Februari 2003
41. Sukardi K.D., Ed.,”Shalat dalam Perspektif Sufi”, PT Remaja Rosdakarya,
November 2001
42. Hamka, Prof. Dr.,”Tasauf : Perkembangan dan Pemurniannya”, PT
Pustaka Panjimas, 1984
43. Rachmat Taufik Hidayat et al, ”Almanak Alam Islami”, Pustaka Jaya,
2000
44. Miftah Faridl, ”Dzikir”, Pustaka, Cetakan ke-3,2000
45. Qamaruddin SF, Rd. ,”Zikir Sufi”, Serambi, Cetakan ke-3, 2002
46. Al-Habib Alwi Al-Haddad, “Mutiara Zikir dan do’a”, Pustaka Hidayah,
Cetakan ke-3, 2000
47. Muhammad Said Al-Qahthani, dkk,”Memurnikan Laa Ilaaha Illallah”,
Gema Insani Press, Jakarta 1991
48. Idrus Abdullah Al-Kaf,”Bisikan-bisikan Hati: Pemikiran Sufistik Imam al-
Haddad dalam Diwan ad-Durr al-Manzhum”,Pustaka Hidayah, Desember
2003
49. Ibnu Qayyim Al jauziyah,”Roh”, Pustaka Al Kautsar, 1999
50. Ibnu Rajab Al Hanbali, “Setahun Bersama Nabi”, Pustaka Hidayah, 2002
51. Victor Danner,”Sufisme Ibu Atha’illah: Kajian Kitab al-Hikam”, Risalah
Gusti, Surabaya, 2003
52. As Sayyid Mahmud Abul Faidh Al Manufi Al Husaini,”Jamharotul
Aulia”,Mutiara llmu, Surabaya, 1996
53. Seyyed Hossein nasr, “Muhammad Kekasih Allah”, Penerbit Hikmah,
2000
54. Haekal, “Hayat Muhammad”, Bina Insani, 1982
55. Allama Sir Abdullah Al-Makmun Al-Suhrawardy,”Muhammad: Kearifan
dan Keutamaan Sang Nabi”, Pustaka Sufi, 2002
56. Yunasril Ali, “Ruh dan Jenjang-jenjang Ruhani”, Serambi, 2003
57. Salim Said Bawazier, “Memahami Hakikat Takdir”, Iqra Insan Press, 2003
58. Abu Usman al-Jahiz, “Desain Ilahi: Dalil Keterciptaan Alam”, Serambi,
1998
59. M. Mutawalli Asy Sya’rawi, “Isra Mi’raj: Mu’jijat Terbesar”, Gema insani
Press, 2001
60. Abdurrahman As-Sanjari,”Dimana Allah?”,Iqra Insan Press,Oktober 2003
61. M.T. Zen, Ed.,”Sains, Teknologi, dan Hari Depan Manusia”, Gramedia,
1981
62. Reynold A. Nicholson,”Mistik Dalam Islam”, Bumi Aksara, 2000
63. Lynn Wilcox,” Ilmu Jiwa Berjumpa tasawuf”, Serambi, November 2003
64. Ian G. Barbour,”Juru Bicara Tuhan”, Mizan, 2002
65. Keith Ward,”Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu”, Mizan, 2002
66. Adil Thaha Yunus,”Jejak-jejak Utusan Allah”,Pustaka Hidayah, 2003
67. Salim Bahreisy, H., “Terjemah Al Hikam: Pendekatan Abdi pada
Kholiqnya”, Balai Buku, 1984
68. Zainal Arifin Thoha, “Nasehat Syeik Abu Hasan Asy Syadzilli Jilin 1 & 2”,
Dua Mata Air, Jogja, 2003
69. _______________, “Nasehat Syeik Abdul Qadir Al Jailani Jilid 1 & 2”,
Dua Mata Air, Jogja, 2003
70. Ali Ansari,”Tasawuf dalam Sorotan Sains Modern”, Pustaka Hidayah,
2003
71. Richard Leakey, ”Asal Usul Manusia”, KPG, 2003
72. Maurice Bucaille, ”Asal Usul Manusia: Menurut Bibel , Al Quran dan
Sains”, Mizan, 2000
73. Ziauddin Sardar dan Iwona Abrams, ”Chaos For Beginner”, Januari,2001
74. Stephen Hawking, ”Riwayat Sang Kala”, Pusta Utama Grafiti, 1994
75. ______________, “Black Holes and Baby Universes”, PT Garmedia,
1993
76. Sandi Setiawan, ”Theory Of Everything”, Andi Offset, 1991
77. Carl Sagan, ”Kosmos”, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1997
78. Situs Harun Yahya http://www.harunyahya.com artikel-artikel:
79. Situs majalah sufi http://www.sufinews.com artikel-artikel :
a. “Tarekat Awam dan Tarekat Khos”.
b. “Tarekat Syadziliyah”
c. “Nasihat asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily RA”
d. “Eksistensi Seorang Mursyid”
80. Henry Schaefer III, Dr. ,”Stephen Hawking, the Big Bang, and God Part 1
& Part 2” , artikel di situs http://www.clm.org
81. Mulla Shadra, ”Manifestasi-manifestasi Allah”, Pustaka Hidayah, Januari,
2004
82. Achmad Marconi, “Bagaimana Alam Semesta Diciptakan: Pendekatan Al
Qur’an dan sains Modern”, Pustaka Jaya, 2003
83. S. Anwar Effendie, Muchjidin Effendie Soleh, Ma’mun Effendie S.,”Alam
Raya dan Al Qur’an”, Pradnya Paramita, 1994
84. Sirajuddin Zar, “Konsep Penciptaan Alam”, Raja Grafindo Persada, 1997
85. Anas Abdul Hamid Al Quz,” Ibnu Qayim Berbicara Tentang Manusia &
Semesta”, Pustaka Azzam,1998
86. Alwi Al-Atas S.S.”, Akbar Medai Eka Aksara, Agustus, 2003
87. Komaruddin Hidayat, Prof.,”Menafsirkan Kehendak Tuhan”, Teraju, 2003
88. Azharuddin Sahil,”Indeks Al-Quran”, Penerbit Mizan, Cetakan ke-9, 2001
89. M. Dawam Rahardjo, Prof. Dr.,”Ensiklopedi Al Quran : Tafsir Sosial
Berdasarkan Konsep-konsep Kunci”, Penerbit Paramadina, Cetakan ke-
2, 2002
90. Qodi Iyad Ibn Musa Al Yahsubi,”Keagungan Kekasih Allah Muhammad
saw.”, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002
91. Syekh Nur ad-Din ar-Raniri,”Rahasia Manusia Menyingkap Ruh Ilahi”,
Pustaka Sufi, Januari, 2003
92. Idries Shah,”Hikmah Dari Timur”, Penerbit Pustaka, 1982
93. Karen Armstrong,”Sejarah Tuhan”, Penerbit Mizan, 2002
94. Muzaffaruddin Nadvi, MA,Ph.D,Dr.,”Pemikiran Muslim Dan Sumbernya”,
Penerbit Pustaka, 1984
95. Murtadha Muthahhari,”Mengenal Epistemologi”, Penerbit Lentera, 2001
96. Abdul Wahid Hamid,”Islam: Cara Hidup Alami”, Lazuardi, September,
2001
97. Anis Matta Lc.m H.M., “Model Manusia Muslim”, PT Syaamil Cipta Media,
Cetakan ke-3, Juni, 2003
98. Zaghloul An-Najjar, Prof. Dr.,”Dan Seluruh Alam pun Bertasbih Kepada-
Nya”, Gema Insani Press, 2003
99. Muhammad Quthub, Dr.,”Islam Agama Pembebas”, Mitra Pustaka,
Cetakan ke-1, September , 2001
100.Wajoetomo, Dr. dr. H.,”Puasa dan Kesehatan”, Gema Insani Press,
Cetakan ke-3, 1999
101.Tony Buzan,” Use Both Sides of Your Brain”, Ikon Teralitera, Februari,
2003
102.Hasbi Ash Shiddieqy, Prof TM,”Tafsir Al Bayaan Jilid I”,
103.Aribowo Prijosasksono, Marlan Mardianto, “Self Management”, PT
Gramedia, Cetakan ke-2, 2002, Jakarta
104.Charles Darwin,”The Origin Of Species”, The New American Library,
Cetakan ke-3, 1960
105.Marshall G.S. Hodgson,”The Venture Of Islam”, Penerbit Paramadina,
Jakarta 2002
106.A. Mustofa Bisri, “Melihat Diri Sendiri”, Gama Media, Maret, 2003
107.Harry S. Dent, Jr,”Ledakan Abad Milenium”, Prestasi Pustaka, Jakarta,
2001
108.Achmad Baiquni, Prof. M.Sc., Ph.D. ,”Al Qur’an Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi”, PT Dana Bhakti Prima Yasa, Cetakan ke-4, Oktober 1996
109.Hidayat Nataatmadja, Dr.,”Inteligensi Spiritual”, Perenial Press, 2001
110.H. Tohari Musnamar, Dr.,”Jalan Lurus Menuju Ma’rifatullah”, Mitra
Pustaka, 2003
111.Musa Kazhim,” Tafsir Sufi”, Penerbit Lentera, Juli, 2003
112.Abul Fadl Mohsin Ebrahim,” Kloning, Eutanasia, Transfusi Darah,
Transplantasi Organ, dan Eksperimen Pada Hewan”, PT Serambi Ilmu
Semesta, Februari, 2004
113.Louis Massignon, “Al-Hallaj: Sang Sufi Syahid”, Fajar Pustaka Baru,
Cetakan ke-3, Maret, 2002
114.John Polkinghorne,”Teori Kuantum: Sebuah Pengantar Singkat”, Penerbit
Jendela, Cetakan ke-1, Februari, 2004
115.Paul Strathern, ”Einstein dan Relativitas”, Penerbit Erlangga, 2002
116.____________, ”Bohr dan Teori Kuantum”, Penerbit Erlangga, 2002
117.Fakhruddin Iraqi, “Lamaat (Kilau Kemilau Ilahi)”, PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta, 2001
118.Michael Talbot, “Mistisisme dan Fisika Baru”, Pustaka Pelajar, Desember,
2002
119.Nurcholis Madjid,” Masyarakat Religius: Membumikan Nilai-nilai Islam
Dalam Kehidupan Masyarakat”, Penerbit Paramadina, Cetakan ke-4,
Jakarta, 2004
120.H. Sahabuddin, Prof. Dr.,”Nur Muhammad: Pintu Menuju Allah”, PT
Logos Wacana Ilmu, Cetakan ke-2, Mei 2002
121.Al-Dar al-Islamiyah,” Menjadi Manusia Sempurna”, Penerbit Cahaya,
Januari 2004
122.KH. Jamaluddin Kafie,” Tasawuf Kontemporer”, Penerbit Republika,
Cetakan ke-2, Maret 2003
123.William C. Chittick,” Dunia Imajinal Ibnu Arabi”, Risalah Gusti, Surabaya,
April 2001
124.Ary Ginanjar Agustian,” ESQ: Emotional Spiritual Quotient”, Penerbit
Arga, Cetakan Pertama, 2001
125.K.H. Toto Tasmara, “Kecerdasan Ruhaniah”, Gema Insani, Jakarta, 2001
126.Faruq Sherif, “Al Quran Menurut Al; Quran”, Serambi, November, 2001
127.Ibnu Arabi,” Fusus Al Hikam”, Penerbit Islamika, Maret , 2004
128.Michael A. Sells,”Terbakar Cinta Tuhan”, Penerbit Mizan, maret , 2004
129.Abdul Munir Mulkhan, “Revolusi Kesadaran Dalam Serat-Serat Sufi”, PT
Serambi Ilmu Semesta, April 2003
130.Peter Coles, “Hawking dan Pikiran Tuhan”, Penerbir Jendela, Cetakan
Pertama, Maret 2003
131.RA Goenadhi, Penyunting, “Khazanah Orang Besar Islam”, Penerbit
Republika, Mei, 2002
132.Ziauddin Sardar, “Jihad Intelektual: Merumuskan Parameter-parameter
Sains Islam”, Risalah Gusti, Cetakan kle-2, 2000
133.Mohammad Hatta, “Alam Pikiran Yunani”, Penerbit Tintamas, Cetakan
ke-3 1986
134.Armahedi Mahzar, “Integralisme: Sebuah Rekonstruksi Filsafat islam”,
Penerbit Pustaka, 1983
135.Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, “Mengenal Mudah: Rukun Islam,
Rukun Iman, Rukun Ihsan Secara Terpadu”, Al Bayan, September, 1998
136.Jawaid Quamar, “Tuhan dan Ilmu Pengetahuan Modern”, Pustaka
Salman, Bandung , 1983
137.Seyyed Hossein Nasr, “Antara Tuhan, Manusia dan alam”, IRCiSoD,
Agustus, 2003
138.Agus Mustofa, “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”, Padma Press, Maret,
2004
139.Ed Sexton, “Dawkins dan The Selfish Gene”, Jendela, Februari 2003
140.Joko Siswanto, “Kosmologi Einstein”, PT Tiara Wacana Yogya,
November, 1996
141.Abdul Rahman Saleh, Muhbib Abdul Wahab, “Psikologi : Suatu
Pengantar dalam Perspektif islam”, Kencana, jakarta, 2004
142.Taufiq Pasiak, “Revolusi IQ, EQ, SQ : Antara Neurosains dan Al Qur’an”,
PT Mizan Pustaka, Setakan ke-3, September 2003
143.
144.Mohammad Luqman Hakiem, “Mursyid dalam Thariqat Sufi “, majalah
Sufi Edisi April 2000
145._______________________, “Sekitar Titik Baa 1 & 2“, majalah Sufi
Edisi April 2000 dan Juni 2000
146._______________________,”Jalan Yang Lurus Itu….”, majalah Sufi
Edisi September 2000
147.Abdul hadi WM, “Asal usul Tarekat Sufi”, majalah Sufi Edisi April 2000
148.KH A. Mustofa Bisri, “Ghurur”, majalah Sufi Edisi Juli 2000
149.Dr. Said Aqiel Siradj, “Relevansi Tasawuf”, majalah Sufi Edisi Juli 2000
150.KH E. Fachruddin Masturo, “Manusia di Maqam Hakiki”, majalah Sufi
September 2000
151.Dr. Komaruddin Hidayat, “Tanpa Ma’rifat Sulit Mencapai Insan”, majalah
Edisi Sufi September 2000
152.Umar Syahab MA,”Kesempurnaan Bayang-bayang Ilahi”, majalah Sufi
Edisi September 2000
153.Syeikh Abdul Kariem Al-Jilly,”Muhammad saw Prototipe Insan Kamil
ringkasan)”, majalah Sufi Edisi September 2000
154.Asrina, “Abu Yazid Al-Busthami”, majalah Sufi Edisi September 2000
155.Dr. KH. Jalaludin Rakhmat,”Perjalanan Sufi Dewa Ruci”, majalah Sufi
Edisi September 2000
156.Salahuddin, “Sekilas Husein Bin Manshur al-Hallaj”, majalah Sufi Edisi
Nopember 2000
157.“Sejumlah Istilah-istilah Sufistik”, majalah Sufi Edisi Nopember 2000
158.Dr. Mulyadhi Kartanegara, “Manifestasi Nilai—nilai Tasawuf dalam
Sejarah”, majalah Sufi Edisi Februari 2001
159.Prof. Dr. Muhammad Ardhani,”Integrasi Ajaran Syariat dan Hakikat”,
majalah Sufi Edisi 2001
160.Danah Zohar dan Ian Marshall, “SQ”, PT Mizan Pustaka, November 2003
161.Abdul Munir Mulkhan, “Kecerdasan Makrifat”, Harian Republika Online
Edisi 16/17 April 2004
162.Imam Suhadi, “Tertelan Dalam Samudera Istiqamah”, Buletin Forum
kajian Tazkiyatun Nafs UI, http://www.paramartha.org
163.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Madarijus salikin”, Pustaka Al-kautsar,
Agustus 2002
164.Al-Ghazali, “Tafsir Ayat Cahaya”, Pustaka Progressif, Januari 1999
165.Capt. W.H Rabbani, “Sufisme Islam”, Sahara Publisher, Februari 2004
166.Achmad Faqih HN, “Menggagas Psikologi Islam: Mendayung Diantara
Paradigma Kemodernan dan Turats Islam”, Jurnal Pemikiran Islam
Volumen 1,No 3, September 2003
167.MB Badruddin Harun, “Terjerat Islam Fenomenal”, Jurnal Pemikiran Islam
Volume 1,No 2, Juni 2003
168.A.H. Dahana, “Beo Berceloteh: Tuhan Seperti Aku”, Al-Mawardi Prima,
Februari 2003.
169.Syeikh Najmuddin Al-Ghaithiy,”Menyingkap Rahasia Isra Mi’raj nabi
Muhammad s.a.w”, Penerbit Pustaka Setia, November 2000
170.Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad Syatha, “Missi Suci Para Sufi”, Mitra
Pustaka, Januari 2000
171.Abu Bakar Abdurrazak, “Matahari Didalam Diri : Muhasabah Al-Gazhali
Untuk Para Muridnya”, Peenrbit Himah, 2003
172.M. Quraish Shihab, “Yang Tersembunyi : Jin, Iblis, Setan dan Malaikat”,
Lentera Hati, 1999
173.Syamsun Niam, “Cinta Ilahi”, Risalah Gusti, 2001
174.Abu Sa’id al-Kharraz, “Kitab Kebenaran : Jalan Cinta Menuju Allah”,
Pustaka Sufi, Maret 2003
175.Imam Ali Zainal Abidin, “Shahifah Sajjadiyyah”, Muthahhari Press, Juli
2002
176.Imam al-syawkani, “Selalu Dituntun Allah”, Serambi, September, 2003 M
177.Gilani Kamran, “Ana al-Haqq”, Risalah Gusti, Surabaya, 2001
178.Abdul Aziz al-Darini, “Melancong Ke Surga”, Penerbit Hikmah Cetakan 1,
2003
179.Sayid Muhammad Mahdi ThabaThaba’i Bahrul Ulum,”As-Sair Wa As-
Suluk”, Penerbit Lentera, 1994
180.Syekh Suhrawardi, “Altar-altar Cahaya”, Serambi, Juni 2003
181.Dr. Javad Nurbakhsh, “Iblis : Lawan atau Kawan”, Serambi, Februari
2004

SAUDARAISLAMSEJATI

Pengungkapan rahasia hati ahli makrifat

Izinkan saya hanya sekadar membagikan tulisan yang semoga bermanfaat, sebuah karya seorang Imam yang hidup lebih dari seribu tahun yang lalu dan karya itu diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Pintu Ilmu dengan judul 100 Nasehat Imam Ja’far al-Shadiq dari judul asli : Mishbah Al-Syari’ah wa Miftah Al-Haqiqah.

Insya Allah saya akan secara rutin menuliskan nasehat-nasehat tersebut satu demi satu.

Nasehat 1.

Pengungkapan rahasia hati ahli makrifat

Rahasia hati ahli makrifat berkisar atas tiga pokok, yaitu : takut, harap dan cinta. Takut itu cabang dari ilmu, harap itu cabang dari yakin, dan cinta itu cabang dari makrifat. Tanda rasa takut itu adalah lari, tanda harap itu mencari, dan tanda cinta itu adalah mengutamakan yang dicintainya diatas selainnya.

Apabila ilmu seseorang telah terbukti kebenarannya maka dia akan takut. Jika benar rasa takutnya, dia akan berlari. Dan jika ia lari, dia selamat.

Apabila telah terbit sinar yakin didalam kalbu seseorang, dia akan menyaksikan keutamaan, jika dia telah mampu menatap keutamaan maka dia berharap. Jika cita rasa manisnya harapan menemukan iman maka dia mencari. Jika dia diberi taufik untuk mencari maka dia pasti menemukannya. Apabila sinar makrifat telah terang didalam hati, berhembuslah angin cinta. Jika angin cinta telah berhembus dan berada dalam bayangan kekasihnya, maka dia akan mengutamakan kekasihnya diatas selainnya, dia akan laksanakan segala perintahNya, dan akan menjauhi segala maksiat kepadaNya dan memilihNya dari segala yang lain. Jika dia beristiqomah bersanding dengan kekasihnya dengan melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, berarti dia telah sampai kepada ruh munajat dan kedekatan.

Perumpamaan ketiga pangkal itu, yaitu tanah suci, masjid dan ka’bah. Orang yang telah memasuki wilayah tanah suci, dia akan merasa aman dari kejahatan seluruh mahluk. Orang yang masuk masjid akan aman seluruh anggota badannya dari melakukan kemaksiatan. Orang yang memasuki ka’bah, hatinya aman dari kesibukan mengingat selain Allah.

Perhatikanlah wahai orang yang beriman !, jika kamu berada pada satu keadaan, saat itu kamu merasa senang menemui kematian maka bersyukurlah kepada Allah atas taufikNya dan penjagaanNya. Namun, jika keadaan itu sebaliknya, menjauhlah dari situ dengan ketetapan hati yang benar, sesalilah kelalaian dari usiamu yang telah lewat, mintalah bantuan kepada Allah untuk mensucikan yang lahir dari dosa-dosa dan membersihkan yang bathin dari segala cela, putuskanlah ikatan kelalaian dari dalam hatimu dan padamkanlah api syahwat dari jiwamu.

 

 

KASYF MA’NAWI SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI

SEBAGAI PENGANTAR: SYEKH ABDUL QADIR JAILANI ADALAH SEORANG WALI ALLAH YANG MEMILIKI KEISTIMEWAAN YAITU KEDEKATANNYA DENGAN SANG PENCIPTA. SAKING DEKATNYA DIA DENGAN ALLAH SWT, MAKA DIA DIJULUKI PEMIMPIN PARA WALI ALLAH YANG ADA DI MUKA BUMI INI. HIDUPNYA BERTABUR KEAJAIBAN SEJAK BAYI HINGGA WAFAT. SEJARAH HIDUPNYA PENUH MIKJIZAT DAN KERAMAT. TIDAK MENGHERANKAN IA DIAKUI SEBAGAI PEMIMPIN WALI KERAMAT DALAM SEJARAH KEWALIAN. BAHKAN IBNU TAIMIYAH SENDIRI PERNAH MENYAKSIKAN BERBAGAI FENOMENA MUKJIZAT DALAM DIRI SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI.

KENAPA DIA DIBERI KAROMAH YANG BEGITU DAHSYAT? UNTUK MENGETAHUI KUNCINYA, DISINI AKAN DIPAPARKAN KARYA SYEKH ABDUL QODIR JAILANI RISALAH AL GHAUTSIYYAH. KARYA INI ADALAH SEBENTUK DIALOG BATINIAH ANTARA ALLAH SWT (DIA) DAN SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI (AKU), YANG DITERIMA MELALUI ILHAM QALBI DAN PENYINGKAPAN RUHANI (KASYF MA’NAWI).

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Sang Penghapus Duka. Shalawat atas manusia terbaik, Muhammad SAW. Berkatalah sang wali agung (Syekh Abdul Qadir Al Jailani), kepada ALLAH SWT.

Allah SWT Berkata : “Wahai wali agung!”
Aku menjawab : “Aku mendengar panggilan-Mu, Wahai Tuhannya si wali.”

Dia Berkata : “Setiap tahapan antara alam Naasut (ALAM MANUSIA) dan alam Malakut adalah syariat; setiap tahapan antara alam Malakut dan Jabarut adalah tarekat; dan setiap tahapan antara alam Jabarut dan alam Lahut adalah hakikat.”

Lalu Dia berkata kepadaku : “Wahai wali agung ! Aku tidak pernah mewujudkan Diri-Ku dalam sesuatu sebagaimana perwujudanKu dalam diri manusia.”

Lalu aku bertanya : “Wahai Tuhanku, apakah Engkau memiliki tempat ?”, Maka Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Akulah Pencipta tempat, dan Aku tidak memiliki tempat.”

Lalu aku bertanya : “Wahai Tuhanku, apakah Engkau makan dan minum ?”, Maka Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, makanan dan minuman kaum fakir adalah makanan dan minuman-Ku.”

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, dari apa Engkau ciptakan malaikat ?”. Dia Berkata kepadaku : “Aku Ciptakan malaikat dari cahaya manusia, dan Aku Ciptakan manusia dari cahaya-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Jadikan manusia sebagai kendaraan-Ku, dan Aku jadikan seluruh isi alam sebagai kendaraan baginya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, betapa indahnya Aku sebagai Pencari ! Betapa indahnya manusia sebagai yang dicari ! Betapa indahnya manusia sebagai pengendara, dan betapa indahnya alam sebagai kendaraan baginya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah Rahasianya. Jika manusia menyadari kedudukannya di sisi-Ku, maka ia akan berucap pada setiap hembusan nafasnya, ‘milik siapakah kekuasaan pada hari ini ?’.

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, tidaklah manusia makan sesuatu, atau minum sesuatu, dan tidaklah ia berdiri atau duduk, berbicara atau diam, tidak pula ia melakukan suatu perbuatan, menuju sesuatu atau menjauhi sesuatu, kecuali Aku Ada [Berperan] di situ, Bersemayam dalam dirinya dan Menggerakkannya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, tubuh manusia, jiwanya, hatinya, ruhnya, pendengarannya, penglihatannya, tangannya, kakinya, dan lidahnya, semua itu Aku Persembahkan kepadanya oleh Diri-Ku, untuk Diri-Ku. Dia tak lain adalah Aku, dan Aku Bukanlah selain dia.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, jika engkau melihat seseorang terbakai oleh api kefakiran dan hancur karena banyaknya kebutuhan, maka dekatilah ia, karena tidak ada penghalang antara Diri-Ku dan dirinya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, janganlah engkau makan sesuatu atau minum sesuatu dan janganlah engkau tidur, kecuali dengan kehadiran hati yang sadar dan mata yang awas.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, barangsiapa terhalang dari perjalanan-Ku di dalam batin, maka ia akan diuji dengan perjalanan lahir, dan ia tidak akan semakin dekat dari-Ku melainkan justru semakin menjauh dalam perjalanan batin.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, kemanunggalan ruhani merupakan keadaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Siapa yang percaya dengannya sebelum mengalaminya sendiri, maka ia telah kafir. Dan barang siapa menginginkan ibadah setelah mencapai keadaan wushul, maka ia telah menyekutukan Allah SWT.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, barangsiapa memperoleh kebahagiaan azali, maka selamat atasnya, dia tidak akan terhina selamanya. Dan barang siapa memperoleh kesengsaraan azali, maka celaka baginya, dia tidak akan diterima sama sekali setelah itu.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Jadikan kefakiran dan kebutuhan sebagai kendaraan manusia. Barangsiapa menaikinya, maka ia telah sampai di tempatnya sebelum menyeberangi gurun dan lembah.”

Lalu Dia Berkatak kepadaku : “Wahai wali agung, bila manusia mengetahui apa yang terjadi setelah kematian, tentu ia tidak menginginkan hidup di dunia ini. Dan ia akan berkata di setiap saat dan kesempatan, ‘Tuhan, matikan aku !’.

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, semua makhluk pada hari kiamat akan dihadapkan kepadaKu dalam keadaan tuli, bisu dan buta, lalu merasa rugi dan menangis. Demikian pula di dalam kubur.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, cinta merupakan tirai yang membatasi antara sang pencinta dan yang dicintai. Bila sang pencinta telah padam dari cintanya, berarti ia telah sampai kepada Sang Kekasih.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Melihat Ruh-ruh menunggu di dalam jasad-jasad mereka setelah ucapanNya, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu ?’ sampai hari kiamat.”

Lalu sang wali berkata : “Aku melihat Tuhan Yang Maha Agung dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, barangsiapa bertanya kepadaKu tentang melihat setelah mengetahui, berrti ia terhalang dari pengetahuan tentang melihat. Barangsiapa mengira bahwa melihat tidak sama dengan mengetahui, maka berarti ia telah terperdaya oleh melihat Allah SWT.’

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, orang fakir dalam pandangan-Ku bukanlah orang yang tidak memiliki apa-apa, melainkan orang fakir adalah ia yang memegang kendali atas segala sesuatu. Bila ia berkata kepada sesuatu, ‘jadilah !’ maka terjadilah ia.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Tak ada persahabatan dan kenikmatan di dalam surga setelah kemunculan-Ku di sana, dan tak ada kesendirian dan kebakaran di dalam neraka setelah sapaan-Ku kepada para penghuninya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Yang Paling Mulia di antara semua yang mulia, dan Aku Yang Paling Penyayang di antara semua penyayang.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, tidurlah di sisi-Ku tidak seperti tidurnya orang-orang awam, maka engkau akan melihatKu.” Terhadap hal ini aku bertanya : “Wahai Tuhanku, bagaimana aku tidur disisi-Mu ?”. Dia Berkata : “Dengan menjauhkan jasmani dari kesenangan, menjauhkan nafsu dari syahwat, menjauhkan hati dari pikiran dan perasaan buruk, dan menjauhkan ruh dari pandangan yang melalaikan, lalu meleburkan dzatmu di dalam Dzat.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, katakan kepada sahabatmu dan pencintamu, siapa di antara kalian yang menginginkan kedekatan dengan-Ku, maka hendaklah ia memilih kefakiran, lalu kefakiran dari kefakiran. Bila kefakiran itu telah sempurna, maka tak ada lagi apapun selain Aku.”

Lalu Dia Berkata : “Wahai wali agung, berbahagialah jika engkau mengasihi makhluk-makhluk-Ku, dan beruntunglah jika engkau memaaafkan makhluk-makhluk-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, katakan kepada pencintamu dan sahabatmu, ambillah manfaat dari do’a kaum fakir, karena mereka bersama-Ku dan Aku Bersama mereka.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Bersama segala sesuatu, Tempat Tinggalnya, Pengawasnya, dan kepada-Ku tempat kembalinya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, jangan peduli pada surga dan apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat Aku tanpa perantara. Dan jangan peduli pada neraka serta apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat Aku tanpa perantara.”16

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, para penghuni surga disibukkan oleh surga, dan para penghuni neraka disibukkan oleh-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, sebagian penghuni surga berlindung dari kenikmatan, sebagaimana penghuni neraka berlindung dari jilatan api.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, barangsiapa disibukkan dengan selain Aku, maka temannya adalah sabuk [tanda kekafiran] pada hari kiamat.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, orang-orang yang dekat mencari pertolongan dari kedekatan, sebagaimana orang-orang yang jauh mencari pertolongan dari kejauhan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, sesungguhnya Aku Memiliki hamba-hamba yang bukan nabi maupun rasul, yang kedudukan mereka tidak diketahui oleh siapapun dari penghuni dunia maupun penghuni akhirat, dari penghuni surga ataupun neraka, tidak juga malaikat Malik ataupun Ridwan, dan Aku Tidak Menjadikan mereka untuk surga maupun untuk neraka, tidak untuk pahala ataupun siksa, tidak untuk bidadari, istana maupun pelayan-pelayan mudanya. Maka beruntunglah orang yang mempercayai mereka meski belum mengenal mereka.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, engkau adalah salah satu dari mereka. Dan di antara tanda-tanda mereka di dunia adalah tubuh-tubuh mereka terbakar karena sedikitnya makan dan minum; nafsu mereka telah hangus dari syahwat, hati mereka telah hangus dari pikiran dan perasaan buruk, ruh-ruh mereka juga telah hangus dari pandangan yang melalaikan. Mereka adalah pemilik keabadian yang terbakar oleh cahaya perjumpaan [dengan Tuhan].”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, bila seseorang yang haus datang kepadamu di hari yang amat panas, sedangkan engkau memiliki air dingin dan engkau sedang tidak membutuhkan air, jika engkau menahan air itu baginya, maka engkau adalah orang yang paling kikir. Bagaimana Aku Menolak mereka dari rahmat-Ku padahal Aku Telah Menetapkan atas Diri-Ku, bahwa Aku Paling Pengasih di antara yang mengasihi.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, tak seorang pun dari ahli maksiat yang jauh dari-Ku, dan tak seorangpun dari ahli ketaatan yang dekat dari-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, bila seseorang dekat kepada-Ku, maka ia adalah dari kalangan maksiat, karena ia merasa memiliki kekurangan dan penyesalan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, merasa memiliki kekurangan merupakan sumber cahaya, dan mengagumi cahaya diri sendiri merupakan sumber kegelapan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, ahli maksiat akan tertutupi oleh kemaksiatannya, dan ahli taat akan tertutupi oleh ketaatannya. Dan Aku Memiliki hamba-hamba selain mereka, yang tidak ditimpa kesedihan maksiat dan keresahan ketaatan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, sampaikan kabar gembira kepada para pendosa tentang adanya keutamaan dan kemurahan, dan sampaikan berita kepada para pengagum diri sendiri tentang adanya keadilan dan pembalasan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, ahli ketaatan selalu mengingat kenikmatan, dan ahli maksiat selalu mengingat Yang Maha Pengasih.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Dekat dengan pelaku maksiat setelah ia berhenti dari kemaksiatannya, dan Aku Jauh dari orang yang taat setelah ia berhenti dari ketaatannya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, Aku Menciptakan orang awam namun mereka tidak mampu memandang cahaya kebesaran-Ku, maka Aku Meletakkan tirai kegelapan di antara Diri-Ku dan mereka. Dan Aku Menciptakan orang-orang khusus namun mereka tidak mampu mendekati-Ku dan mereka sebagai tirai penghalang.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, katakan kepada para sahabatmu, siapa di antara mereka yang ingin sampai kepada-Ku, maka ia harus keluar dari segala sesuatu selain Aku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, keluarlah dari batas dunia, maka engkau akan sampai ke akhirat. Dan keluarlah dari batas akhirat, maka engkau akan sampai kepada-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, keluarlah engkau dari raga dan jiwamu, lalu keluarlah dari hati dan ruhmu, lalu keluarlah dari hukum dan perintah, maka engkau akan sampai kepada-Ku.”

Maka aku bertanya : “Wahai Tuhanku, shalat sepert apa yang paling dekat dengan-Mu ?.” Dia Berkata : “Shalat yang di dalamnya tiada apapun kecuali Aku, dan orang yang melakukannya lenyap dari shalatnya dan tenggelam karenanya.”1

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, puasa seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Puasa yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, dan orang yang melakukannya lenyap darinya.”

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, amal apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Amal yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, baik itu [harapan] surga ataupun [ketakutan] neraka, dan pelakunya lenyap darinya.”

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, tangisan seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Tangisan orang-orang yang tertawa.” Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, tertawa seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Tertawanya orang-orang yang menangis karena bertobat.” Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, tobat seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Menjawab : “Tobatnya orang-orang yang suci.” Lalu aku bertanya : “Wahai Tuhanku, kesucian seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Menjawab : “Kesucian orang-orang yang bertobat.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, pencari ilmu di mata-Ku tidak mempunyai jalan kecuali setelah ia mengakui kebodohannya, karena jika ia tidak melepaskan ilmu yang ada padanya, ia akan menjadi setan.”

Berkatalah sang wali agung : “Aku bertemu Tuhanku SWT dan aku bertanya kepada-Nya, ‘Wahai Tuhan, apa makna kerinduan [‘isyq] ?’, Dia Menjawab : ‘Wahai wali agung, [artinya] engkau mesti merindukan-Ku dan mengosongkan hatimu dari selain Aku.’” Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, jika engkau mengerti bentuk kerinduan maka engkau harus lenyap dari kerinduan, karena ia merupakan penghalang antara si perindu dan yang dirindukan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, bila engkau berniat melakukan tobat, maka pertama kali engkau harus bertobat dari nafsu, lalu mengeluarkan pikiran dan perasaan buruk dari hati dengan mengusir kegelisahan dosa, maka engkau akan sampai kepada-Ku. Dan hendaknya engkau bersabar, karena bila tidak bersabar berarti engkau hanya bermain-main belaka.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, bila engkau ingin memasuki wilayah-Ku, maka hendaknya engkau tidak berpaling kepada alam mulk, alam malakut, maupun alam jabarut. Karena alam mulk adalah setannya orang berilmu, dan malakut adalah setannya ahli makrifat, dan jabarut adalah setannya orang yang sadar. Siapa yang puas dengan salah satu dari ketiganya, maka ia akan terusir dari sisi-Ku.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, perjuangan spiritual [mujahadah] adalah salah satu lautan di samudera penyaksian [musyahadah] dan tela dipilih oleh orang-orang yang sadar. Barangsiapa hendak masuk ke samudera musyahadah, maka ia harus memilih mujahadah, karena mujahadah merupakan benih dari musyahadah dan musyahadah tanpa mujahadah adalah mustahil. Barangsiapa telah memilih mujahadah, maka ia akan mengalami musyahadah, dikehendaki atau tidak dikehendaki.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, para pencari jalan spiritual tidak dapat berjalan tanpa mujahadah, sebagaimana mereka tak dapat melakukannya tanpa Aku.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, sesungguhnya hamba yang paling Ku Cintai adalah hamba yang mempunyai ayah dan anak tetapi hatinya kosong dari keduanya. Jika ayahnya meninggal, ia tidak sedih karenanya, dan jika anaknya pun meninggal, ia pun tidak gundah karenanya. Jika seorang hamba telah mencapai tingkat seperti ini, maka di sisi-Ku tanpa ayah dan tanpa anak, dan tak ada bandingan baginya.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, siapa yang tidak merasakan lenyapnya seorang ayah karena kecintaan kepada-Ku dan lenyapnya seorang anak karena kecintaan kepada-Ku, maka ia tak akan merasakan lezatnya Kesendirian dan Ketunggalan.”

Dia juga Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, bila engkau ingin memandang-Ku di setiap tempat, maka engkau harus memilih hati resah yang kosong dari selain Aku.” Lalu aku bertanya : “Tuhanku, apa ilmunya ilmu itu ?.” Dia Menjawab : “Ilmunya ilmu adalah ketidaktahuan akan ilmu.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, berbahagialah seorang hamba yang hatinya condong kepada mujahadah, dan celakalah bagi hamba yang hatinya condong kepada syahwat.”

Lalu aku bertanya kepada Tuhanku SWT tentang mi’raj. Dia Berkata : “Mi’raj adalah naik meninggalkan segala sesuatu kecuali Aku, dan kesempurnaan mi’raj adalah pandangan tidak berpaling dan tidak pula melampauinya [ QS 53 : 17].” Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, tidak ada shalat bagi orang yang tidak melakukan mi’raj kepada-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai wali agung, orang yang kehilangan shalatnya adalah orang yang tidak mi’raj kepada-Ku.”

 

Lemah lembut dan Menahan amarah


Melatih diri untuk dapat memiliki akhlak mulia ini dapat dimulai dengan menahan diri ketika marah dan mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara sebelum bertindak. Karena setiap manusia tidk pernah terpisahkan dari problema hidup, jika ia tidak membekali dirinya dengan akhlak ini, niscaya ia gagal untuk menyelesaikan problemanya.
Akhlak mulia ini terjadang diabaikan oleh manusia ketika amarah telah menguasai diri mereka, sehingga tindakannya pun berdampak negatif bagi dirinya ataupun orang lain.
Padahal rasulullah sudah mengingatkan dari sifat marah yang tidak pada tempatnya, sebagaimana beliau bersabda kepada seorang sahabat yang meminta nasehat :
“ Janganlah kamu marah.” Dan beliau mengulanginya berkali-kali dengan bersabda : “Janganlah kamu marah”. (HR. Bukhari). dari hadits ini diambil faedah bahwa marah adalah pintu kejelekan, yang penuh dengan kesalahan dan kejahatan, sehingga rasulullah mewasiatkan kepada sahabatnya itu agar tidak marah. Tidak berarti manusia dilarang marah secara mutlak. Namun marah yang dilarang adalah marah yang disebabkan oleh hawa nafsu yang memancing pelakunya bersikap melampaui batas dalam berbicara, mencela, mencerca, dan menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tidak terpuji, yang mana sikap ini menjauhkannya dati kelemahlembutan.

Didalam hadits yang shahih Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda : “ Bukanlah dikatakan seorang yang kuat itu dengan bergulat, akan tetapi orang yang kuat dalam menahan dirinya dari marah”. (Muttafaqqun’alahi).

Ulama telah menjelaskan berbagai cara menyembuhkan penyakit marah yang tercelah yang ada pada seorang hamba, yaitu :
1. Berdoa kepada Allah, yang membimbing dan menunjuki hamba-hambaNya ke jalan yang lurus dan menghilangkan sifat-sifat jelek dan hina dari diri manusia. Allah ta’alah berfirman : “ Berdoalah kalian kepadaku niscaya akan aku kabulkan.” (Ghafir: 60)
2. Terus-menerus berdzikir pada Allah seperti membaca Al-Quran, bertasbih, bertahlil, dan istigfar, karena Allah telah menjelaskan bahwa hati manusia akan tenang dan tenteram dengan mengingat Allah. Allah berfirman :

“Ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” ( Ar-Ra’d : 28)

  1. Mengingat nash-nash yang menganjurkan untuk menahan marah dan balasan bagi orang-orang yang mampu manahan amarahnya sebagaimana sabda nabi shalallahu ‘alaihi wasallam : “ Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia sanggup untuk melampiaskannya, (kelak di hari kiamat) Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluq-Nya hingga menyuruhnya memilih salah satu dari bidadari surga, dan menikahkannya dengan hamba tersebut sesuai dengan kemaunnya “ (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat shahihul jami’ No. 6398).
    4. Merubah posisi ketika marah, seperti jika ia marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah ia duduk, dan jikalau ia sedang duduk maka hendaklah ia berbaring, sebagaimana sabda rasulullah shalallahu alaihi wa sallam :
    “ Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kalau telah reda/hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja), dan jika belum hendaklah ia berbaring.” (Al-Misykat 5114).
    5. Berlindung dari setan dan menghindar dari sebab-sebab yang akan membangkitkan kemarahannya.
    Demikianlah jalan keluar untuk selamat dari marah yang tercela. Dan betapa indahnya perilaku seorang muslim jika dihiasi dengan kelemahlembutan dan kasih sayang, karena tidaklah kelemahlembutan berada pada suatu perkara melainkan akan membuatnya indah. Sebaliknya bila kebengisan dan kemarahan ada pada suatu urusan niscaya akan menjelekkannya. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : “ Tidaklah kelemahlembutan itu berada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah, dan tidaklah kelembutan itu dicabut kecuali akan menjadikannya jelek.” (HR. Muslim).
    Wallahu ‘Alam Bishawab
  2. JALAN MENUJU QANA’AH

Ditulis oleh :  Muhammad Robbi Ali Marzuki

Qana’ah (rela dan menerima pemberian Allah subhanahu wata’ala apa adanya) adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi siapa yang diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadan memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta.
Namun meskipun demikian kita dituntut untuk memerangi hawa nafsu supaya bisa menekan sifat tamak dan membimbingnya menuju sikap zuhud dan qana’ah. Berikut ini beberapa kiat menuju qana’ah yang jika kita laksanakan maka dengan izin Allah seseorang akan dapat merealisasikan nya. Di antaranya yaitu:
1. Memperkuat Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala.
Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah subhanahu wata’ala, karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan makan di hari itu.
Sebaliknya siapa yang hatinya fakir maka meskipun dia memilki dunia seisinya kecuali hanya satu dirham saja, maka dia memandang bahwa kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus merasa miskin sebelum mendapatkan dirham itu.
2. Yaqin bahwa Rizki Telah Tertulis.
Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya, “Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Seorang hamba hanya diperintah kan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala yang memberinya rizki dan bahwa rizkinya telah tertulis.
3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur’an yang Agung.
Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). ‘Amir bin Abdi Qais pernah berkata, “Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi, (yaitu):
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathiir:2)
“Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS.Yunus:107)
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud:6)
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. ath-Thalaq:7)4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki
Di antara hikmah Allah subhanahu wata’ala menentu kan perbedaan rizki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi kan pelayanan dan jasa.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentu kan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. az-Zukhruf:32)
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS.Al an’am 165)5. Banyak Memohon Qana’ah kepada Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah subhanahu wata’ala agar diberikan qana’ah, beliau bedoa,
“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi)
Dan karena saking qana’ahnya, beliau tidak meminta kepada Allah subhanahu wata’ala kecuali sekedar cukup untuk kehidu pan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau, “Ya Allah jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)6. Menyadari bahwa Rizki Tidak Diukur dengan Kepandaian
Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak tergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab rizki, namun bukan ukuran secara pasti.
Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.
7. Melihat ke Bawah dalam Hal Dunia
Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)
Jika saat ini anda sedang sakit maka yakinlah bahwa selain anda masih ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya. Jika anda melihat ada orang lain yang mendapatkan harta dan kedudukannya lebih dari anda, padahal dia tidak lebih pintar dan tidak lebih berilmu dibanding anda, maka mengapa anda tidak ingat bahwa anda telah mendapatkan sesuatu yang tidak dia dapatkan?
8. Membaca Kehidupan Salaf
Yakni melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperolah harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih membutuhkan.
9. Menyadari Beratnya Tanggung Jawab Harta
Bahwa harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemilik nya jika dia tidak mendapatkan nya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.
Ketika seorang hamba ditanya tantang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab dua kali, yakni dari mana memperoleh dan ke mana membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibanding orang yang lebih sedikit hartanya.10. Melihat Realita bahwa Orang Fakir dan Orang Kaya Tidak Jauh Berbeda.
Karena seorang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan orang fakir. Tidak mungkin dia makan lima puluh piring sekaligus, meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan dia memiliki seratus potong baju maka dia hanya memakai sepotong saja, sama dengan yang dipakai orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak dia manfaatkan maka itu relatif (nisbi).
Sungguh indah apa yang diucapkan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya.”

Membuka Aura …

Hari ini tidak sedikit orang yang melakukan kegiatan-kegiatan yang bernuansa syirik, hanya karena ingin Aura mereka terbuka. Tidak sedikit yang berusaha membuka auranya untuk mencari keberuntungan hidup duniawi saja. Akhirnya, berbagai cara yang tidak syar’i dilakukannya. Alih-alih membuka aura, eh malah sibuk membuka aurat. Na’udzubillahi min dzalik
Apakah sejatinya Aura itu? Mengapa Aura itu tidak boleh tertutup dan harus terbuka? Dan apa dampaknya jika aura itu tertutup? Dan bagaimana cara membuka aura? Dan apakah penting bagi kaum mukmin itu melakukan terapi untuk membuka aura?
Aura adalah Medan Energi Elektromagnetik yang mengelilingi tubuh Anda. Ia membentuk nur atau cahaya seperti pelangi. Setiap orang punya dominan cahaya yang berbeda. Ada orang yang dominan merah, dominan jingga, dominan kuning, dominan hijau, dominan biru, dominan nila/indigo, dan dominan ungu.
Pada Workshop  TCH-Terapi Cahaya Hati yang biasa kami lakukan, maka Anda akan dituntun untuk membuka Aura dengan cara yang nyata, tapi kami tidak akan menjelaskan apakah Arti setiap warna dari Aura, dan kami tidak akan “menuduh” Anda memiliki Aura warna ini dan itu. bagi kami itu bukan wilayah kami sebagai makhluk. Namun secara sifat, Aura itu dibagi Dua, pertama Aura yang Terbuka (Terang-Positif), Kedua Aura yang Tertutup (Gelap-Negatif). Dan secara jenis Aura juga dibagi dua, pertama Aura Jasadi, dan kedua Aura Ruhani.
Pada praktiknya, saya memperhatikan ada pola yang unik dalam hal membuka aura, yaitu “SEMAKIN MENUTUPI maka SEMAKIN TERBUKA”. Misal dari pendekatan ruhani dapat dimaknai bahwa semakin Anda suka menutupi aib orang lain, dan semakin Anda tidak membuka masalah-masalah Anda kepada manusia, maka insya Allah pasti Aura Nur Hati Anda akan terbuka bercahaya. Sedangkan contoh dari pendekatan jasadi adalah semakin Anda menutup aurat Anda maka aura Anda semakin terbuka, atau contoh lain adalah semakin Anda menutup hadirnya zat asing ke dalam tubuh Anda maka aura Anda pun akan semakin terbuka. Insya Allah.
Sebenarnya tidak ada perintah langsung dari ALLAH dan RosulNya agar kita melakukan praktek membuka Aura. Hanya saja, sebenarnya kalau kita melakukan berbagai perintahnya dengan hati yang ikhlas, maka otomatis aura kita akan terbuka. Adapun, TCH ini adalah sebuah teknik yang sederhana, berdasar konsep ibadah yang sudah ada, agar Anda membersihkan hati Anda. Dan, efek dari hati yang bersih adalah terbukanya aura tubuh Anda, dan efek dari terbukanya Aura adalah mengundang berbagai rahmat ataupun karuniaNya, insya Allah.

Wallahu alam

 

CINTA HANYA DAPAT DIBUKTIKAN DENGAN WAKTU


cinta adalah perasaan abstrak yang hanya dapat di rasa dan tak dapat dilukiskan dengan kata kata sebanyak apapun karena, cinta yang suci adalah cinta yang tak lekang oleh waktu, dan tak hilang oleh musibah apapun, ketika cinta harus memilih cinta kepada Allah adalah segalanya. Cinta yang suci tak mengenal kesedihan, kekayaan, kemewahan,kecantikan.

Alkisah di sebuah pulai kecil tinggalkah berbagai macam benda benda abstrak , mereka adalah Cinta, kesedihan, kekayaan, kegembiraan , dan lain lain, mereka hidup berdampingan

Suatu hari datanglah badai dan pulau kecil itu mulai terendam air, semua penghuni berusaha menyelamat diri,
Cinta sangat kebingungan , ia tidak dapat berenang , tidak punya perahu, ia berdiri ditepi pantai mencoba memcari pertolongan, sementara itu air sudah mulai membasahi kaki cinta,

Tak lama kemudian cinta melihat kekayaan sedang mengayuh perahu. Kekayaan, Kekayaan ! tolong aku, ” teriak cinta. ”Aduh !Maaf, Cinta !”kata kekayaan, ”Perahuku telah penuh harta bendaku, Aku tak dapat membawamu serta, Nanti perahu ini tenggelam, lagi pula tak ada tempat bagiku diperahuku ini.”

Lalu kekayaan berlalu meninggalkan cinta, kemudian dari arah lain terlihat kegembiraan yang lewat dengan perahunya, karena terlalu gembira ia tidak mendengarkan teriakan cinta yang minta tolong,

Air terus membasahi kaki cinta dan makin tinggi, lalu cinta melihat kecantikan lewat didepannya, cintapun meminta tolong, tapi kecantikan yang naik perahu berkata ” Wah Cinta maaf kamu basah dan kotor , aku tidak bisa membawamu ikut, nanti kamu akan mengotori perahuku yang indah ini.” sahut Kecantikan

Cintapun makin sedih, lalu lewatlah teman cinta yaitu kesedihan, cintapun meminta tolong, tapi kesedihan berkata ” Maaf cinta aku sedang sedih, ingin sendirian saja,” Kata kesedihan sambil mengayuh perahunya

Tiba tiba datan seorang bapak tua yang mendengar suara cinta” Cinta naiklah ke perahu ini, ” betapa senang hati cinta

Dipulau terdekat bapak tua itu menurunkan cinta dan segera pergi kembali. Pada ssat itu barulah cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui bapak tua tersebut, Cinta bertanya pada orang dipulau tersebut, orang menjawab . ” Oh Bapak tadi yang menyelamatkan dia adalah Waktu, kata orang tersebut. Cinta bertanya mengapa dia menolongku padahal aku tak mengenalnya, ”Sebab ” Kata orang itu,” hanya waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari cinta itu 

Diposkan oleh Assalamu’alaikum

 

Oleh: Prof. Dr. Nashir ibn Sulaiman al-Umar*
Alhamdulillah Pemberi kemuliaan bagi yang menaatiNya dan kehinaan bagi yang menentangNya, Penghancur para tiran dan pengangkuh serta Penghina para penganiaya.

Shalawat dan salam atas Rasul termulia, penutup Nabi-nabiNya, Muhammad Sang Pedang Terhunus (bagi musuh-musuhNya), Sang Pelita yang terang dan juga semoga tercurah atas keluarga dan para shahabat beliau.

Media-media informasi di pagi hari ini, hari raya Iedul Adha begitu ramai menyampaikan kepada dunia akan peristiwa eksekusi mati Saddam Husein di tiang gantungan akibat putusan pengadilan yang dilaksanakan oleh pemerintah pendudukan Iraq di bawah pengawasan tentara penjajah Amerika dan kekuasaan Syi’ah Shafawiyah. Hal ini menimbulkan sikap dan reaksi yang berbeda-beda di kalangan umat sedunia sesuai sudut pandang mereka masing-masing terhadap persoalan ini dan kajian di atas satu pertimbangan tanpa melihat sisi yang lain sehingga kadang menimbulkan persepsi keliru atau hukum yang tidak tepat.

Bagi kami, yang harus diperhatikan adalah klarifikasi terhadap beberapa persoalan dan memandangnya dengan teliti dan cermat sebelum mengambil suatu sikap atau tiba pada suatu kesimpulan, olehnya itu dengan memohon taufiq dari Allah Ta’ala kami menyampaikan:
1. Seorang Muslim dalam memandang peristiwa yang terjadi di sekelilingnya, atau implikasi dari semua itu atau ketika memutuskan hukum atas pihak manasaja yang terkait hendaknya mendasarkan pada syariat dan menimbangnya dengan timbangan al-Qurān dan as-Sunnah, di samping -tentu saja- mengumpulkan informasi tentang keadaan yang sebenarnya. Sebab menimbang suatu persoalan dengan selain timbangan syar’i -yang memberikan persepsi menyeluruh tentang segala persoalan- hanya memberi pelakunya bayangan semu dan angan-angan hampa hingga tiba pada hasil yang menyesatkan dan menipu.
2. Kita mengenal Saddam Husein sejak dulu di saat semua orang mengelilinginya bahkan menganggapnya sebagai seorang pembesar Bangsa Arab yang dapat dipanuti sehingga mereka berjalan di belakangnya, kita mengenalnya sebagai seorang yang memerangi Islam, ia membunuh para ulama dan tidak memberi kesempatan kepada para dai untuk berdakwah serta berupaya menghapus tanda-tanda keislaman di negerinya sendiri demi kepentingan nasionalisme Arab dan partai Ba’ats yang berhaluan komunis, sehingga Iraq kosong dari ulama kecuali sangat sedikit dan hukum Islam tidak berlaku bagi penduduknya. Iapun hingga mati tidak pernah mengumumkan pengunduran dirinya dari partai Ba’ats tersebut. Namun juga yang patut dicatat, ia adalah penentang gerakan Syiah Shafawiyah Persia yang begitu kokoh tegak di hadapan kekuatan besar tersebut di Iraq bahkan ia rela terjun dalam peperangan hebat melawan gerakan itu sehingga tidak mampu berbuat apa-apa di dalam kekuasaannya.
Tapi yang pasti, gaya kepemimpinan dan politik pemerintahannya yang kacau  serta kepentingan partai dan pribadi menjadikan negerinya hidup dalam kehancuran, rakyatnya miskin padahal Iraq adalah negeri yang sangat kaya dengan sumber daya alam seperti minyak, pertanian, dsb. Hingga akhirnya ia membawa Iraq ke kondisi seperti sekarang ini, menjadi daerah pendudukan bagi kekuatan Amerika Serikat,  Zionisme Israel dan Syiah Shafawiyah penganut ajaran Majusi. Adapun keadaan Saddam sendiri di akhir hidupnya, maka kami tidak dapat memberi komentar sebab kami tidak tahu dalam keadaan apakah ia mati yang jelas ia sudah kembali kepada Tuhannya maka segala urusan kembali kepadaNya.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (Qs. 17:36)
3. Pengadilan yang mengadili Saddam adalah pengadilan yang tidak adil, ia hanyalah kamuflase, semua orang telah mengetahui akhirnya sejak awal sebab pelaksananya adalah seteru bahkan musuh-musuhnya sendiri. Sehingga pengadilan itu tidak dapat diharapkan menegakkan keadilan atau menghukum kebathilan, ia adalah pengadilan yang tak dapat dipercaya, dilaksanakan oleh orang-orang yang tidak terpercaya, dilaksanakan juga dengan cara yang tidak adil sehingga kecurigaan terhadapnya begitu besar baik oleh para pengamat Barat apalagi dari selain mereka yang lebih mengedepankan keadilan.
4. Eksekusi mati atas Saddam Husein sebenarnya hanya menjelaskan kelemahan kaum penjajah negeri Iraq dan sekutu-sekutunya, kurangnya perencanaan politis mereka sebab tidak ada satu pihakpun yang bergembira dalam hal ini. Ia -dari sejak ditangkap hingga eksekusi matinya- sudah tidak memiliki nilai sebesar dahulu apalagi pengaruh kuat terhadap rakyat Iraq.
5. Perlawanan bangsa Iraq adalah perlawanan syar’i sunni yang tidak pernah terkait sedikitpun dengan Saddam Husein atau partai Ba’ats atau syiar-syiar Jahiliyah lainnya, justru mereka hari ini harus membayar harga sangat mahal akibat kebijakan politiknya yang penuh ketidakadilan dan pemerintahannya yang aniaya. Olehnya itu eksekusi mati Saddam tidak memiliki pengaruh atas perlawanan ini, ia akan terus bergulir Insya Allah melawan bangsa penjajah hingga Iraq kembali menjadi negeri Arab yang Islam, bendera Islam berkibar gagah di sana meskipun saat ini keadaan tersebut belum tercapai.
“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu”. (Qs. 30:60)
“…dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Qs. 12:21)
6. Peristiwa ini menunjukkan keberanian kaum Syiah dan pengaruhnya yang kuat atas negeri Iraq saat ini sebagai hasil dari persekutuan mereka dengan Amerika Serikat. Eksekusi Saddam -baik kesepakatan dengan pihak Amerika atau ketetapan dari pemerintah Iraq sendiri saat ini yaitu kaum Syiah Shafawi- menandakan akan adanya bahaya yang mengancam.
7. Pemilihan waktu dan tempat eksekusi Saddam oleh pemerintah Syiah Iraq hanyalah menunjukkan akan kebencian dan dendam dalam kaum ini terhadap Ahlus Sunnah di sana dan di manapun mereka berada. Kaum Syiah selalu berupaya mengaitkan Saddam dengan kaum Sunni sehingga semua kesalahannya harus ditanggung mereka dan putusan kematiannya di tiang gantung adalah kemenangan kaum Syiah atas kaum Sunni. Olehnya itu pemilihan hari raya Iedul Adha sebagai waktu eksekusi hendaknya menjadi perhatian bagi kita semua dan seharusnya menimbulkan banyak pertanyaan, apa rahasia di balik pemilihan ini oleh pemerintah pendudukan di Baghdad.
8. Tidak ada keharusan bagi kita bersikap dalam peristiwa ini baik gembira atau sedih karena keduanya adalah sikap aniaya, perkara Saddam biarlah kembali kepada Allah walaupun sejarah kehidupannya begitu jelas namun Ialah Yang Maha Tahu apakah ia telah bertaubat atau tidak. Jikapun kita bersedih maka kesedihan itu bukanlah karena kematian Saddam tapi lebih karena kekuasaan kaum Syiah saat ini dan pelampiasan dendam mereka atas kaum Sunni di sana.
9. Beberapa pelajaran penting dari kejadian ini:
a. Akhir buruk bagi kaum zhalim betapapun kuat dan tinggi kekuasaannya,
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim”. (Qs. 14:42)
“dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali”. (Qs. 26:227)
b. Kewajiban setiap pemimpin dan pemerintah kaum Muslimin untuk kembali ke jalan Allah dan menghukum dengan syariatNya serta berupaya meninggikan agama Allah di muka bumi ini,
“(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”. (Qs. 22:41)
Dan janganlah mereka menjadi kaki tangan musuh kaum Muslimin, sebab jika para musuh telah menganggap peran mereka telah habis mereka pasti akan dibuang dalam kondisi hina dina,
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan”. (Qs. 11:113)
Sejarah modern telah mencatat hasil tersebut, dan tidaklah keadaan Saddam Husein kecuali hanyalah satu mata dari rantai panjang ini.
c. Barangsiapa yang menggantungkan urusannya hanya kepada Allah serta berupaya menolong agamaNya, maka ia pasti akan tertolong Insya Allah, apakah ia berhasil mengalahkan musuh-musuhnya atau wafat sebagai syahid. Sebab kemenangan hakiki adalah kemenangan prinsip dan aqidah bukan berkuasanya seseorang atau beradanya ia di tampuk pemerintahan, simaklah kisah di surah al-Buruj atau lihatlah firman Allah:
“Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”. (Qs. 40:51)
d. Kewajiban Ahlus Sunnah di Iraq dari peristiwa ini untuk mewaspadai kekuatan kaum Rafidhah Syiah di sana, sehingga mereka harus bersatu melawan penjajahan Amerika dan kaum Syiah tersebut, sebab hakikatnya kedua pihak ini meskipun kadang terlihat bersama dan kadang terlihat berselisih namun tujuan mereka menghancurkan kaum Sunni tidak pernah mereka perselisihkan. Demikian pula atas Ahlus Sunnah di seluruh dunia dan khususnya di Kawasan Arab untuk mengetahui tujuan-tujuan terselubung kaum Syiah Rafidhah di kawasan ini dan melakukan upaya perlawanan nyata sebelum datang hari penyesalan, sebab di dalam peristiwa Iraq telah terdapat pelajaran penting dan peringatan besar bagi kaum yang berakal. Dan di antara prioritas kewajiban saat ini adalah berdiri bersama saudara-saudara kita para Mujahidin Iraq dan membantu mereka dengan segenap kemampuan kita fisik dan mental selama kesempatan untuk itu masih ada, sebab Ahlus Sunnah adalah kaum Mushabirun dan para Mujahidin adalah Murabhitun yang hingga saat ini senantiasa menimpakan atas kaum musuh kerugian yang banyak meskipun kemampuan mereka sangat terbatas, jika kita berlepas diri dari mereka maka kita tidak akan aman dari hukuman Allah sebab itu adalah kezhaliman dan tindakan penghinaan kepada sesama muslim yang ganjaran hukumannya cepat sebagaimana sunnatullah yang pernah terjadi pada umat-umat terdahulu,
“Dan (penduduk) negeri Telah kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan Telah kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka”. (Qs. 18:59)
“Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang Telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu”. (Qs. 35:43)
Demikianlah, wallahu a’lam dan semoga shalawat serta salam tercurah atas Rasulullah, keluarga dan shahabat beliau.
Mekkah, 10 Dzulhijjah 1427 H
* Diambil dari situs: http://www.almoslim.net, diterjemah oleh: Rahmat A. Rahman.

Doa yang paling afdol adalah Alhamdulillah

Doa yang paling afdol adalah Alhamdulillah

Do’a yang paling afdol adalah ‘Alhamdulillahi robbil ‘alamin’ Segala Puji Bagi Allah Rob Semesta Alam…

kita sering menganggap do’a yang pas untuk kita ialah ‘Robbana atina fidun ya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qinna adzabanar’ kita ingin dunia dapat kebaikan dan akhirat dapat kebaikan dan diakhirat kita tidak ingin kena adzab dari Allah.. do’a ini baik karena Allah sendiri yang mengarang-Nya untuk kita…

tapi do’a yang paling afdol ialah ‘Alhamdulillahi robbil ‘alamin’…

jadi jika kita banyak memuji Allah, menyebut hamdallah sebetulnya kita sedang melakukan do’a yang paling utama…

Rasulullah SAW Tahajud. Tahajudnya Rasul SAW bukan ingin lunas hutang. Tahajudnya Rasul bukan supaya disayang orang. Tahajudnya Rasul bukan supaya jauh dari musibah. tapi Tahajudnya Rasul SAW karena syukur kepada Allah…

memang puncak pengabdian adalah Syukur. Maka kalau kita memiliki bersyukur, sebetulnya sudah. kita punya kunci ‘La in Syakartum, La adzidanakum. Jadi semua nikmat itu seperti lemari yang terkunci, yaitu kuncinya syukur…

mana yang kita fikirkan? isi lemari atau kunci lemari? buat apa memikirkan isi lemari kalau tidak punya kunci? hanya bikin menderita. Kalau kita punya kunci tidak usah memikirkan isi lemari karena memang janjinya bagus. kata Allah ‘Jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambah kenikmatan untukmu…’

maka kalau kesibukan kita selalu bersyukur kepada Allah, kita akan lega…

syarat syukur itu apa? jadi jangan takut dengan nikmat yang belum ada. Semuanya milik Allah dan semuanya dalam genggaman Allah.

Jangan risau tentang uang yang belum datang, tidak akan kemana-mana dan tidak akan tertukar sedikitpun. belum punya rumah, jangan risau dengan harga tanah naik, rumah naik tidak ada masalah.., kalau Allah mau ngasih mah mau naik berapa saja pasti dapat.. Kan yang jadi masalah bukan naiknya harga rumah, bukan naiknya harga tanah, tapi yang jadi masalah ialah tidak kebeli…!!. Kalau harga tanah naik tapi kalau Allah mau ngasih mah tidak ada yang bisa menolaknya… sudahlah jangan takut…, jangan takut dengan nikmat yang belum ada…

wah bagaimana nanti??, nanti apa??, nanti mah dalam genggamannya Allah..!!, sekarang nih yang bahaya..!!, kita nanem apa?, kalau sekarang kita nanem syukur maka nikmat sudah janji Allah. Janji Allah itu pasti… tidak akan meleset, tidak akan tertukar, tidak akan tertunda. Sempurna dan tidak ada keraguan…

maka kalau Allah sudah janji ‘kamu syukur maka akan Ku tambah nikmat..’ maka sudah berhenti memikirkan nikmat… maka yang harus kita fikirkan apa?? yang harus kita fikirkan sekarang ialah syukur…

- jangan takut uang yang belum ada, takutlah uang yang sudah ada ini tidak bisa kita syukuri.
- jangan takut memikirkan rumah yang belum ada, jangan takut kontrakan yang belum terbayar. takutlah kontrakan yang ada tidak bisa kita syukuri…
- jangan takut dengan ilmu yang belum kita dapatkan, takutlah ilmu yang ada tidak bisa kita syukuri

jadi rasa takut kita akan tidak bersyukur ini seharusnya besar…, karena ‘wa la inkafartum, inna adzabi la syadid… ‘jika kamu tidak bersyukur maka azab-Ku amatlah pedih…’ subhanallah…

ternyata kalau kufur nikmat itu akan menjadi adzab buat kita, kita takud adzab Allah? takut adzab Allah berarti takut untuk tidak beryukur kepada Allah…

kita kadang kejauhan mikirnya…, uang yang belum ada difikirkan.., mau kemana?? Allah sudah tahu rezeki kita dimana, kapan yang paling pass untuk kita. kita mah tidak usah rewel. Selama ini juga kan kita dicukupi oleh Allah?? iya kan?? duh saya tidak punya ongkos?, tapi kan nyampe ke tujuan dibonceng teman?

syukur syarat pertama ialah ‘hati’. Harus total yang namanya karunia sekecil apapun, sebesar apapun hanya dari Allah, tidak ada selain Allah. Namanya makhluk bukan sumber, makhluk hanyalah sebuah jalan.

Kalau kita sudah melihat makhluk sebagai sumber nikmat maka kita akan mengabdi kepada makhluk itu, kita bakal tunduk, kita bakal merunduk, kita akan berharap dan kita akan takut kepada makhluk. Kenapa? karena makhluk sudah dianggap sebagai sumber, padahal Allah lah sumber- …

Allah… sekecil apapun, sehalus apapun itu Allah yang punya…

Dari buku The Secret Tentang Kekayaan

Berikut beberapa Kutipan/Quote Dari The Secret, Tentang Kekayaan:
“Bersyukur setiap hari adalah salah satu syarat untuk mendatangkan kekayaan.” (Wallace Wattles)
“Niatkan untuk memandangi segala sesuatu yang Anda sukai dan katakan pada diri sendiri, Saya mampu mendapatkannya. Saya mampu membelinya. Anda akan mengubah pikiran Anda dan mulai merasa lebih baik tentang uang.” (The Secret)

“Memberikan uang akan mendatangkan lebih banyak uang ke dalam hidup Anda. Ketika Anda bermurah hati dengan uang, dan merasa senang untuk berbagi dengan orang lain, sebenarnya Anda berkata, Saya punya banyak uang.” (The Secret)

“Dalam hal menciptakan kekayaan, kekayaan adalah sebuah kerangka pikir. Semuanya adalah tentang bagaimana Anda berpikir.” (David Schirmer)

Untuk menarik lebih banyak uang, Anda harus bisa merasa baik tentang uang. Bisa dipahami ketika orang tidak mempunyai cukup uang, mereka tidak merasa baik tentang uang karena mereka tidak mempunyai cukup uang. Tetapi, perasaan negatif tentang uang itu menghentikan lebih banyak uang datang kepada Anda! Anda harus bisa menghentikan siklus ini, dan Adna menghentikannya dengan mulai merasa baik tentang uang, dan bersyukur untuk apa yang sudah Adna miliki. Mulailah berkata dan merasakan, Saya memiliki lebih dari cukup. Ada kelimpahan uang, dan uang sedang menuju ke saya. Saya adalah magnet uang. Saya suka uang, dan uang menyukai saya. Saya menerima uang setiap hari. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. (The Secret)

“Untuk menarik uang, berfokuslah pada kekayaan. Mustahil untuk mendatangkan lebih banyak uang ke dalam hidup Anda jika Anda berfokus pada kekurangan uang.” (The Secret)

“Memberi Uang untuk Mendapatkan Uang. Memberi adalah suatu tindakan yang penuh daya untuk mendatangkan lebih banyak uang ke dalam hidup Anda karena ketika Anda memberi, Anda berkata, Saya punya banyak. Tidak akan mengherankan bagi Anda untuk mengetahui bahwa orang-orang terkaya di dunia adalah dermawan terbesar. Mereka memberikan sejumlah besar uang, dan ketika mereka memberi, menurut hukum tarik-menarik, Semesta akan membuka dan mengalirkan sejumlah besar uang kembali ke mereka dalam jumlah berlipat ganda!” (The Secret)

 

 

 

 

 

TERNYATA TUJUAN ILMU ADALAH CINTA

 

Banyak orang orang mengira cinta itu itu buta, dan menyebabkan orang sengsara, bahkan ada yang bilang hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, begitu penomenanya kah cinta? begitu pentingnya kah cinta? sehingga tidak seorangpun yang dapat lari dari cinta, hampir semua orang pernah merasakan cinta, benarkah? ada apa dengan cinta?. mari kita bahas cinta menurut opini yang biasa terjadi disekitar kita, Coba kita pikir kalo emang cinta itu modal utama seseorang berbahagia? tentulah yang tidak pernah jatuh cinta akan merana, hidupnya akan kosong dan hampa. haruskah kita mencari cinta? dimana cinta berada? adakah cinta bagi para santri? apa cinta hanya milik orang awam yang tidak mengerti agama? untuk lebih jelasnya mari kita simak: faktor seseorang bisa jatuh cinta: 1. Dia harus mengenal orang yang ia cintai. Karena cinta engga bakalan bisa hadir dihati seseorang, bila dia tidak mengenal siapa yang ia cintai. 2. Mencari tau apa yang disukai si do’i, em kalo kita tau apa yang ia suka, gima gaya hidupnya, tentulah mudah mendapatkan simpati si do’i, kalo yang dia suka aja engga tau, gimana kita mo pedekate? 3. Mencari cara agar orang yang kita cintai juga mengenal kita, em.. biasanya sih dengan hadiah ato dengan berbuat sebaik mungkin didepan orang yang dicintai. he..he ya jadi pahlawan kesiangan gitu, tapi perlu di ingat jangan terlalalu narsis (alias merasa, paling keren end paling beken) kadang jadi bumerang yang membuat kita dibencinya, karena kalo kita cinta tapi yang dicitai engga kenal end engga tau ame kita ya itu namanya bertepuk sebelah tangan men!!!!. ya beda tipislah ama pribahasa ibarat pungguk merindukan bulan. 4. Kalo cinta udah bersambut itu yang dinamakan ” jatuh cinta” kata orang orang sih jatuh cinta berjuta rasanya. 5. Bagi para pecinta akan terbit dihatinya rasa kangen, rindu, dan selalu terkenang siang dan malam, cemburu selalu ingin bertemu (karindangan). Nah itu adalah sebuah ilustrasi para pecinta yang tidak sedikit menimbulkan dosa dan derita yang berkepanjangan, nafsu yang tidak dibarengi dengan akal sehat akan membawa petaka yang tidak berujung. Mencintai mahluk yang fana dan binasa saja manusia bisa lupa segalanya. Nabi bersabda ” cinta dunia adalah pokok dari tiap kejahatan”. Padahal Rasulullah memerintahkan kita untuk mencinta yang kekal abadi, Maha mengetahui, kuasa, juga menghendaki apapun yang terjadi di maya pada ini, siapa dia? Dia adalah Allah swt. Zat Wajibal wujud pemilik sekalian alam. bisakah trik jatuh cinta tadi kita jadikan barometer kita untuk belajar mencintai Allah? mari kita simak yu ya yuuuu!!!: 1. Kita harus mengenal siapa yang kita cinta, mencintai Allah tidaklah semudah membalik telapak tangan, karena Allah tidak bisa dilihat seperti kita mencintai makhluk, kan kata orang awalnya datang cinta dari mata turun kehati. tapi untuk mencintai Allah kita wajib memelajari Ilmu yang membahas masalah yang berhubungan dengan Allah dari Zat-Nya, Sifat-Nya, Nama-Nya juga Af’al (perbuatannya) kita juga wajib mengenal Rasulullah Nabi akhir zaman penutup para nabi. Malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah, percaya bahwa ada hidup sesudah mati, ada hari pembalasan dimana seluruh anggota tubuh berbicara sedangkan mulut yang biasanya selalu mengelak dan selalu membela diri ketika itu dikunci, percaya juga baik dan buruk, Qodo dan qodar semuanya dari Allah. ya kalo ilmu ini udah masyhur ilmu tauhid namanya atau juga dikenal dengan ilmu usuluddin. 2. Kita harus mencari tau apa sih yang disukai Allah dan Rasul, caranya adalah dengan terus menerus menjalankan perintah dan meninggalkan larangannya, untuk lebih detail mengerjakan dan meninggalkan larangan tidak lain adalah dengan mempelajari Ilmu fikih, untuk lebih mudah memahami ilmu ini ada beberapa bahan yang harus dipelajari seperti Ilmu Usul Fiqih, Qawaid Fiqih, juga ilmu ishthilah fuqaha baru dapat memahaminya dengan tahqiq dan benar, apabila seseorang tidak memahami ilmu ini bagaimanapun tingginya tingkat keilmuaan seseorang dibidang Tauhid dan Tasawuf dia akan mendapatkan kerugian agama yang besar, dia akan banyak melanggar hukum-hukum Allah dan tidak akan dapat ittiba’ kepada Rasulullah, Imam malik rahimahullah mengatakan ” siapa yang bertasawuf tidak mengusai fiqih sungguh orang itu menjadi zindik, siapa yang menguasai fiqih sedangkan ia tidak bertaswuf sungguh akan menjadi fasiq dan siapa yang menghimpun keduanya sesungguhnya itulah yang benar, karena Fiqih adalah Ibadah zhahir yang dikerjakan oleh Rasulullah, firman Allah: “katakanlah ” jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikuti aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Imamuna Syafi’i mengatakan ” Setiap hukum yang diputuskan Rasulullah saw adalah yang difaham dari Al-quran” Al-quran diturunkan adalah untuk menjadi pedoman bagi orang-orang yang beriman, dan seseorang tidak akan mampu memahami Al-quran bila tidak mengikuti Sunnah Nabi Allah Ta’ala berfirman: Artinya: Dan kami,tidak menurunkan kepadamu Alkitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Jadi jelaslah bahwa kita wajib mempelajari ilmu fiqih, apakah seluruh sub dan bab-bab atau pasal-pasal ilmu fiqih wajib kita pelajari? tidak bagi orang awam tidaklah wajib mempelajarinya, hanya pada bagian-bagian tertentu saja, dan setiap ilmu yang berhubungan dengan kewajiban seperti Syahadat, solat, puasa, kalo zakat hanya ketika orang itu berzakat saja baru wajib mempelajarinya, haji juga begitu ketika sesorang sudah mampu sudah menyetorkan ONH nya barulah orang itu diwajibkan mempelajarinya, tetapi yang berkaitan dengan ibadah solat kita juga diwajibkan mempelajari syarat dan rukunnya, dari toharah, wudhu, mandi, hingga waktu-waktu-waktu solat, dll. 3. Setelah kita mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah barulah kita akan membersihkan hati dengan mempelajari ilmu tasawuf, kita wajib menghilangkan sifat-sifat madzmumah atau kotoran-kotoran hati, seperti sifat takabbur (sombong) ria (suka pamer) sum’ah (suka minta dengar) hiqid (dengki) dll. nah ilmu inilah yang paling menentukan keikhsan seseorang dalam melaksanakan ibadah, orang tidak mempelajari ilmu ini akan terjebak oleh perasaan dirinya adalah orang yang paling soleh paling taqwa, mulia, alim dan sebagainya. 4. Sesudah kita tau apa yang disukai oleh orang yang kita suka, nah baru pedekate, kalau dalam istilah agama dinamakan dengan Thariqat (melaksanakan ilmu-Ilmu yang dipejari, mulai dari tauhid,fiqih hingga ilmu taswuf) seseorang tidak akan dapat mengetahui indahnya pemandangan tempat wisata kalo hanya mengenalnya lewat promo dan lewat cerita saja, berangkat dan menyaksikan langsunglah yang dapat membuat orang itu tau persis tempat wisata tersebut, begitu juga bagi seorang yang berharap cinta dan dicintai Allah dan Rasul kita harus berjalan sekuat tenaga dengan mengamalkan apa yang kita pelajari selama ini sembari memperbanyak berdzikir bersolawat kepada Nabi barulah kita akan dapat merasakan nikmatnya mencintai dan dicintai Allah, Allah berfirman: ingatlah kepadaku, aku akan mengingatmu, Rasulullah juga bersabda: apabila sesorang mengucapkan solawat kepadaku maka Allah akan mengirimkan dua orang malaikat yang bertugas mengampaikan salamku padanya. kalo udah komplit dari tauhit, fikih, Tasawuf orang itu akan masuk kegerbang mahabbatullah rindu hanya untuk Allah gerak dan diamnya dia persembahkan hanya kepada Allah, orang ini akan dihinggapi perasaan syauq rindu dan mahabbah (cinta). ya emang sih untuk mencapai maqam ini engga semoa orang mampu mencapainya, tapi kita jangan putus asa bukankah Allah firman: Bersungguh-sungguhlah di jalan kami niscaya akan kami beri petunjuk. dari urayan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa seseorang tidak akan pernah mampu mendapatkan cinta dan dicintai Allah kecuali mempelajari ilmu tauhid, fiqih, dan ilmu tasawuf serta mengamalkannya. Semoga kita tergolong orang yang mencintai dan dicintai Allah dan Rasulullah. Wallahu a’alam bisshawab. Menebar Energi Kasih Sayang Tidaklah seseorang memiliki kasih sayang terhadap sesama, kecuali Allah SWT akan menghiasinya dengan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang berlaku bengis terhadap sesamanya, kecuali Allah akan mencabut rasa kasih sayang dari dirinya dan mencampakkannya ke tempat yang hina. Suatu hari Umar bin Khathab berjalan-jalan di seputar Madinah. Saat itu ia melihat seorang anak kecil sedang memainkan seekor burung pipit. Timbullah rasa iba dalam hati Umar. Ia pun segera membujuk si anak untuk menjual burung pipit mainannya. Anak itu setuju. Segera setelah bertransaksi, Umar melepaskan burung itu ke udara. Setelah beliau wafat, sebagian sahabat mimpi berjumpa dengan Umar. Mereka bertanya, “Bagaimana Allah memperlakukan Anda?” Umar menjawab, “Allah mengampuni dan memuliakan.” Para sahabat bertanya kembali, “Apakah sebabnya? Apa karena kedermawananmu, keadilanmu, atau karena kezuhudanmu?”. “Ketika manusia menguburkanku dan mereka pulang, tinggallah aku sendirian di dalam kubur. Maka datanglah dua malaikat. Akalku hilang dan aku pun gemetar ketakutan. Mereka mendudukkanku untuk menanyaiku. Saat itulah terdengar suara tanpa rupa: ‘Wahai Malaikat, tinggalkanlah hamba-Ku ini! Tidak usah kalian tanya atau kalian takut-takuti dia, sebab Aku menyayanginya dan akan Aku bebaskan siksaan daripadanya. Karena dia adalah seorang yang mengasihi seekor burung pipit waktu di dunia. Maka di akhirat Aku menyayangi-Nya,” demikian keterangan Umar. Di dunia ini berlaku hukum kekekalan energi. Satu hukum yang menjelaskan bahwa sebuah energi tidak akan pernah hilang, ia hanya sekadar berubah bentuk. Sebagai sebuah ilustrasi, dari dulu hingga sekarang jumlah benda cair selalu tetap jumlahnya, hanya bentuknya saja yang berubah-ubah. Hukum ini berlaku pula pada manusia. Setiap energi yang dihasilkan, entah itu energi positif (amal saleh) maupun negatif (dosa), nilainya tidak akan pernah hilang. Kita menolong orang yang kesusahan misalnya, maka energi positif tersebut akan selalu ada dan akan kembali pada kita. Bentuknya bisa sama, ditolong kembali oleh yang lain saat kita kesusahan, ataupun dalam bentuk berbeda, berupa pujian dari manusia, ketenangan jiwa, atau pahala di sisi Allah. Bahkan, dalam pandangan Allah Swt, energi kebaikan tersebut akan dikembalikan kepada pembuatnya dalam jumlah yang berlipat-lipat. Difirmankan, Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walau sebesar zarrah, dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar (QS An-Nisa’ [4]: 40). Pengalaman Umar bin Khathab menjadi contoh konkret akan adanya hukum kekekalan energi. Walau hanya menolong seekor pipit, Allah SWT membalasnya dengan pahala yang teramat luar biasa. Umar telah memberikan energi kasih sayangnya dan Allah SWT membalasnya dengan energi kasih sayang yang jauh lebih besar. Tidak hanya itu, kebaikan yang terlihat “sepele” tersebut makin mengangkat derajat Umar di hadapan Allah dan semua makhluk-Nya. Benar apa yang dikatakan Rasul bahwa tidaklah seseorang memiliki kasih sayang terhadap sesama, kecuali Allah Swt akan menghiasinya dengan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang berlaku bengis terhadap sesamanya, kecuali Allah akan mencabut rasa kasih sayang dari dirinya dan mencampakkannya ke tempat yang hina. Ada kisah lain yang menunjukkan betapa energi kasih sayang yang dianggap sepele, mampu mengangkat pelakunya pada tempat yang terhormat. Di antaranya kisah seorang pezina yang diampuni Allah dan dimasukkan ke dalam surga hanya karena menolong anjing yang kehausan. Sebaliknya, ada seorang ahli ibadah yang divonis masuk neraka hanya karena mengurung seekor kucing tanpa diberi makan, sampai kucing tersebut mati kelaparan. Kasih sayang dan kualitas beragama Hakikat keberagamaan adalah terjalinnya kasih sayang. Allah SWT menurunkan Islam sebagai pemandu bagi manusia agar saling berkasih sayang dan menyebarkannya pada penghuni bumi yang lain. Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya’ [21]: 107). Karena itu, tidak mungkin seorang yang mengaku Muslim tega menyakiti makhluk Allah lainnya tanpa alasan yang jelas. Mukmin adalah mereka yang bisa memberi kedamaian kepada semua objek di sekitarnya. Rasulullah SAW bersabda, “Kalian tidak dianggap beriman sebelum kalian saling menyayangi.” Para sahabat bertanya, “Bukankah masing-masing kita memiliki kasih sayang?”. Beliau menjawab, “Yang dimaksud bukanlah kasih sayang seorang di antara kalian kepada sahabatnya. Tetapi kasih sayang untuk umat manusia, kasih sayang yang bersifat umum”. Bila kasih sayang sudah menyebar di muka bumi, maka curahan kasih sayang Allah pun akan tertuang di atasnya. “Kasihilah yang ada di bumi, niscaya engkau akan dikasihi yang di langit”. Sebaliknya murka Allah akan turun tatkala kita menzalimi yang di bumi. Boleh jadi, kesempitan hidup yang kita derita, salah satu penyebabnya adalah telah lunturnya kasih sayang di dalam hati kita. Lihatlah, kita sering tidak peka terhadap kesusahaan orang lain. Saat teman sakit, kita anggap itu biasa dan tidak terenyuh untuk sekadar menanyakan kabar atau menjenguknya. Saat ribuan TKI diusir dari negara lain, kita menganggapnya sebagai hal biasa. Jarang kita memberi perhatian pada mereka walau dengan seuntai doa. Ada satu hadis dari Abu Hurairah yang layak kita renungkan. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman pada hari Kiamat, ‘Wahai Anak Adam! Aku telah sakit tetapi kamu tidak menjenguk-Ku’. Dia (Anak Adam) menjawab, ‘Ya Rabbi, bagaimanakah aku menjenguk-Mu, padahal Engkau Rabb al-Alamin?’. Allah berfirman, ‘Tidakkah kamu tahu, bahwa hamba-Ku telah menderita sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Apakah kamu tidak tahu bahwa kalau kamu menjenguknya, niscaya kamu dapati (pahala dari) Ku berada di sisinya’. ‘Wahai anak Adam! Aku meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberi-Ku makan’. Dia menjawab, ‘Ya Rabbi, bagaimana aku memberi-Mu makan, padahal Engkau Rabb al-Alamin?’. Allah berfirman, ‘Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya makan. Apakah kamu tidak tahu bahwa kalau kamu memberinya makan, niscaya kamu dapati balasannya ada pada-Ku’. ‘Wahai anak Adam! Aku meminta minum, tetapi kamu tidak memberi-Ku minum’. Dia menjawab: ‘Ya Rabbi, bagaimana aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Rabb al-’Alamin?’. Allah berfirman, ‘Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku meminta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Apakah kamu tidak tahu bahwa kalau kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapati balasannya ada pada-Ku’.” (HR Muslim). Apa makna dari “Aku sakit engkau tak menjenguk-Ku, Aku lapar engkau tak memberi-Ku makan. Aku haus tapi engkau tak memberi-Ku minum?”. Bagaimana Allah Yang Mahaperkasa, Yang Mahakaya berfirman bahwa Dia sakit, Dia lapar dan Dia haus? Hakikatnya, Allah itu bersama orang-orang yang kesusahan. Siapa yang menyayangi dan menolong mereka, nilainya sama dengan menyayangi dan “menolong” Tuhannya. Wallahu a’lam bish-shawab. Allah Mengajarkan Cinta Pernahkah hatimu merasakan kekuatan mencintai Kamu tersenyum meski hatimu terluka karena yakin ia milikmu, Kamu menangis kala bahagia bersama karena yakin ia cintamu Cinta melukis bahagia, sedih, sakit hati, cemburu, berduka Dan hatimu tetap diwarnai mencintai, itulah dalamnya cinta. Pernahkah cinta memerahkan hati membutakan mata Kepekatannya menutup mata hatimu memabukkanmu sesaat di nirwana Dan kau tak bisa beralih dipeluk merdunya nyanyian bahagia semu Padahal sesungguhnya hanya kehampaan yang mengisi sisi gelaphatimu Itulah cinta karena manusia yang dibutakan nafsunya. Cinta adalah pesan agung Allah pada umat manusia DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNYA di atas Arsy Cinta dengan ketulusan hati mengalahkan amarah Menuju kepatuhan pengabdian kepada Allah dan Rasulnya. Dan saat pena cinta Allah mewarnai melukis hatimu, satu jam bersama serasa satu menit saja Ketika engkau memiliki cinta yang diajarkan Allah Kekasih menjadi lentera hati menerangi jalan menuju Illahi Membawa ketundukan tulus pengabdian kepada Allah dan RasulNya Namun saat cinta di hatimu dikendalikan dorongan nafsu manusia Alirannya memekatkan darahmu membutakan mata hati dari kebenaran Saat kamu merasakan agungnya cinta yang diajarkan Allah Kekasih menjadi pembuktian pengabdian cinta tulusmu Memelukmu dalam ibadah menuju samudra kekal kehidupan tanpa batas. Menjadi media amaliyah dan ketundukan tulus pengabdian kepada Allah Itulah cinta yang melukis hati mewarnai kebahagiaan hakiki Agungnya kepatuhan cinta Allah bisa ditemukan dikehidupan alam semesta Seperti thawafnya gugusan bintang, bulan, bumi dan matahari pada sumbunya Tak sedetikpun bergeser dari porosnya, keharmonisan berujung pada keabadian Keharmonisan pada keabadian melalui kekasih yang mencintai Karena Allah adalah kekasih Zat yang abadi. Cintailah kekasihmu setulusnya maka Allah akan mencintaimu Karena Allah mengajarkan cinta tulus dan agung Cinta yang mengalahkan Amarah menebarkan keharmonisan Seperti ikhlas dan tulusnya cinta Rasul mengabdi pada Illahi Itulah cinta tertinggi menuju kebahagiaan hakiki

KATA KATA BIJAK

27 Kalimat Bijak “Simak Gan…” D

1. Anger is a condition in which the tongue works faster than the mind.
Kemarahan adalah suatu kondisi dimana lidah bekerja lebih cepat dari pada pikiran.
2. You can’t change the past, but you can ruin the present by worrying over the future.
Anda tidak dapat mengubah masa lampau, tapi anda dapat merusak masa kini dengan merisaukan masa depan.
3. God always gives His best to those who leave the choice with Him.
Allah selalu memberikan yang terbaik kepada mereka yang menyerahkan pilihan itu kepadaNya.
4. All people smile in the same language.
Semua orang tersenyum didalam bahasa yang sama.
5. A hug is a great gift.. One size fits all. It can be given for any occasion and it’s easy to exchange.
Pelukan adalah suatu pemberian yang besar. Satu ukuran saja tapi cocok untuk semua . Hal itu dapat diberikan pada setiap masa dan mudah untuk dipertukarkan.
6. Everyone needs to be loved… especially when they do not deserve it.
Setiap orang perlu untuk dicintai… teristimewa sekali apabila mereka tidak layak untuk menerimanya.
7. The real measure of a man’s wealth is what he has invested in eternity.
Ukuran yang sesungguhnya dari kekayaan seseorang adalah jika dia sudah berinvestasi bagi masa kekekalan diakhirat.
8. Laughter is God’s sunshine.
Tertawa adalah merupakan ‘sinar surya’ Tuhan.
9. Everyone has beauty but not everyone sees it.
Setiap orang mempunyai keindahan, tapi tidak setiap orang melihatnya.
10. It’s important for parents to live the same things they teach.
Adalah penting bagi orang tua untuk menghidupkan hal-hal yang sama dengan apa yang telah mereka ajarkan. [menjadi teladan yang baik]
11. Thank God for what you have, TRUST GOD for what you need.
Berterima kasihlah kepada Allah untuk apa yang anda dapat. PASRAHKANLAH KEPADA Allah untuk apa yang anda perlukan.
12. If you fill your heart with regrets of y ester day and the worries of tomorrow, you have no today to be thankful for.
Kalau anda memenuhi hati anda dengan penyesalan hari kemarin dan kekuatiran akan hari esok, maka anda tidak mempunyai hari ini untuk disyukuri.
13. Happy memories never wear out… re-live them as often as you want.
Kenangan bahagia tidak akan pernah lapuk… hidupkanlah kembali sesering yang anda kehendaki.
14. Home is the place where we grumble the most, but are often treated the best.
Rumah adalah tempat dimana kita paling banyak mengomel, tapi seringkali diperlakukan secara paling baik.
15. The choice you make today will usually affect tomorrow.
Pilihan yang anda buat hari ini akan mempengaruhi hari esok anda.
16. Take time to laugh, for it is the music of the soul.
Ambillah kesempatan untuk tertawa, karena itu adalah musik dari jiwa.
17. If anyone speaks badly of you, live so none will believe it.
Jika seseorang membicarakan keburukan anda, hiduplah sedemikian rupa sehingga tidak ada seorang pun mempercayainya.
18. Patience is the ability to idle your motor when you feel like stripping your gears.
Kesabaran adalah kesanggupan untuk menetralkan persneling mobil, pada saat anda merasa ingin untuk merombak persneling itu. [ttp berkepala dingin, meski kata hati ingin meluapkan amarah]
19. Love is strengthened by working through conflicts together.
Cinta itu diteguhkan dengan jalan melalui pertikaian bersama-sama. [setelah bersama melalui suatu rintangan, niscaya cinta akan menjadi lebih indah]
20. The best thing parents can do for their children is to love each other.
Hal yang terbaik yang dapat dilakukan orang tua bagi anak-anak mereka adalah saling mengasihi satu sama lain.
21. Harsh words break no bones but they do break hearts.
Kata-kata yang kasar tidak dapat meremukkan tulang tapi hal itu dapat meremukkan hati.
22. To get out of a difficulty, one usually must go through it.
Untuk keluar dari kesulitan, seseorang harus berjalan menembusnya.
23. We take for granted the things that we should be giving thanks for.
Kita seringkali menganggap sepele hal-hal yg seharusnya kita syukuri.
24. Love is the only thing that can be divided without being diminished..
Cinta Kasih adalah satu-satunya hal yang dapat kita bagikan tanpa menjadikannya berkurang
25. Happiness is enhanced by others but does not depend upon others.
Kebahagiaan itu bertambah oleh orang lain, tapi tidak bergantung pada orang lain.
26. You are richer today if you have laughed, given or forgiven.
Anda menjadi lebih ‘kaya’ hari ini kalau anda sudah tertawa, sudah memberikan sesuatu ataupun mengampuni/memberi maaf seseorang.
27. For every minute you are angry with someone, you lose 60 seconds of happiness that you can never get back.
Dalam setiap menit, ketika anda marah kepada seseorang, anda akan kehilangan 60 detik kebahagiaan yang anda tidak akan dapat memperolehnya kembali.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.